Sedekah Dua Ibadah

Sedekah Dua Ibadah


Sedekah sah dan tetap mendapatkan pahala meski diberikan kepada siapa saja, akan tetapi tetap saja ada orang-orang atau pihak-pihak yang harus diprioritaskan. Allah azza wajalla berfirman yang artinya: “Katakanlah: Apa yang kamu infakkan berupa kebaikan maka itu untuk kedua orang tua, sanak kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang yang berada dalam perjalanan…”  Allah juga berfirman:

فَآتِ ذَاالْقُرْبي حَقَّهُ وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ, ذلِكَ خَيْرٌ لِلَّذِيْنَ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَ اللهِ وَأُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Maka berikanlah kepada sanak kerabat akan haknya, orang miskin, dan musafir. Demikian itu lebih baik bagi orang-orang yang mengharapkan Allah. Dan merekalah orang-orang yang beruntung”

Nurul Haromain
Islam memberantas perbudakan sehingga mendorong agar budak dimerdekakan sebagai sebuah amal sendiri serta juga ada banyak aturan hukuman yang berupa harus memerdekakan budak. Meski demikian ternyata bersedekah kepada sanak kerabat memiliki nilai lebih tinggi daripada me-merdeka-kan budak.  Mengetahui sang isteri Maimunah bintil Harits ra baru saja memerdekakan seorang budak wanita, maka Rasulullah Saw bersabda:

أَمَا إِنَّكِ لَوْ أَعْطَيْتِهَا أَخْوَالَكِ كَانَ أَعْظَمَ لِأَجْرِكِ

“Ingat, sesungguhnya jika kamu memberikannya (budak wanita itu) kepada para kerabat dari ibumu niscaya itu lebih memperbesar pahalamu”

Abu Umamah ra meriwayatkan sabda Rasulullah Saw:

إِنَّ الصَّدَقَةَ عَلَى ذِيْ قَرَابَةٍ يُضَعَّفُ أَجْرُهَا مَرَّتَيْنِ

“Sesungguhnya bersedekah kepada kerabat sendiri dilipatgandakan pahalanya dua kali”

Ini karena bersedekah kepada sanak kerabat bukan hanya sekedar bersedekah, tetapi juga memiliki misi menyambung sanak famili yang telah dinyatakan oleh baginda Rasulullah Saw bahwa barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia menyambung kerabatnya. Jika ingin berusia panjang dan diluaskan rizki maka hendaknya seseorang menyambung sanak famili. Barang siapa berharap mendapatkan anak keturunan yang baik maka hendaknya rajin bershilaturrahim. Usaha shilaturrahim bisa dilakukan dengan secara berkala berkunjung ke rumah sanak family dalam setiap waktu tertentu. Enam bulan sekali atau setahun sekali seperti saat lebaran. Selain berkunjung, ada pula usaha shilaturrahim yang diajarkan oleh Islam yaitu dengan memberikan sedekah kepada sanak kerabat. Rasulullah Saw bersabda:


Anjuran memberikan sedekah kepada sanak famili juga terdapat dalam kisah Zainab isterti Abdullah bin Mas’ud ra. Zainab mengisahkan:

Aku berada di masjid dan melihat Rasulullah Saw sedang bersabda: “(Wahai para wanita) bersedekahlah kalian meski dari perhiasan kalian!” Zainab lalu (pulang) dan meminta kepada suaminya: “Tanyakanlah kepada Rasulullah Saw apakah sudah cukup bagiku berinfak kepadamu dan kepada anak-anak yatim dalam asuhanku dari harta sedekah (ku)!” Suaminya menjawab: “Kamu (saja) silahkan bertanya kepada Rasulullah Saw!”



Aku (Zainab) segera datang kepada Nabi Saw. Di depan pintu beliau aku bertemu dengan seorang wanita Anshar (bernama Zainab isteri Abu Mas’ud Uqbah bin Amir ra) yang juga memiliki kebutuhan sama persis denganku. Bilal muncul dan kami meminta: “Bertanyalah kepada Nabi Saw apakah cukup bagi kami berinfak kepada suamiku dan anak-anak yatim dalam asuhanku, dan jangan kabarkan tentang kami!” Bilal masuk dan bertanya kepada Nabi Saw. Beliau Saw bertanya: “Siapa kedua wanita itu?” Bilal menjawab: “Zainab” “Zainab yang mana?” Tanya Nabi Saw. Bilal menjawab: “Isteri Abdullah (bin Mas’ud)” Rasulullah Saw lalu bersabda:

نَعَمْ, لَهَا أَجْرَانِ أَجْرُ الْقَرَابَةِ وَأَجْرُ الصَّدَقَةِ

“Benar, dia mendapat dua pahala; pahala (menyambung) kerabat dan pahala sedekah”

Anjuran memberikan sedekah kepada sanak famili juga terdapat dalam kisah Abu Thalhah Al Anshari ra yang ketika hendak menyedekahkan Biaruha’, sebuah kebun kurma yang dekat dengan masjid dan terdapat sumber air yang jernih, lalu diperintahkan oleh Rasulullah Saw:

...وَإِنِّيْ أَرَي أَنْ تَجْعَلَهَا فِى الْأَقْرَبِيْنَ

“….dan sesungguhnya aku berpendapat sebaiknya kamu memberikannya kepada para sanak kerabat (mu)!”

Abu Thalhah ra lalu membagikan kebun kurma itu kepada para kerabatnya yang di antara mereka adalah Hassan bin Tsabit ra dan Ubayy bin Kaab ra. Adapun Hassan maka bertemu nasab dengan Abu Thalhah pada ayah ketiga (buyut). Abu Thalhah bernama Zaid bin Sahl bin al Aswad bin Haram bin Amar bin Zaid Manat bin Adiyy bin Amar bin Malik bin Najjar. Sedang Hassan adalah Hassan bin Tsabit bin Mundzir bin Haram bin Amar bin Zaid Manat bin Adiyy bin Amar bin Amar bin Malik bin Najjar. Sedang Ubayy bin Kaab bertemu nasab dengan Abu Thalhah pada ayah keenam yaitu Amar bin Malik. Lengkapnya adalah Ubayy bin Kaab bin Qaes bin Ubed bin Zaid bin Muawiyah bin Amar bin Malik bin Najjar.


Sedekah kepada sanak famili menjadi tidak mudah dilakukan tetapi jika bisa maka semakin besar pahala dan semakin utama ketika sanak famili tersebut memendam kebencian dan permusuhan. Rasulullah Saw bersabda:

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ الصَّدَقَةُ عَلَى ذِي الرَّحِمِ الْكَاشِحِ

“Sedekah yang paling utama adalah sedekah kepada sanak family yang memendam permusuhan”

Dimusuhi tidak membalas memusuhi tetapi justru memberi. Diputuskan tetapi masih berusaha menyambung kembali. Hal ini bukan sesuatu yang tidak mudah dilakukan. Akan tetapi jika berhasil dilakukan maka sungguh besar pahala yang didapatkan. Rasulullah Saw bersabda yang artinya: “Tiga hal yang bila berada pada diri seseorang maka Allah pasti menghisabnya secara mudah dan memasukkan dirinya ke surga dengan rahmatNya” para sahabat bertanya: “Apakah itu wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku?” Rasulullah Saw bersabda: “Kamu memberi orang yang menjegalmu, kamu menyambung orang yang memutusmu dan kamu memaafkan orang yang zhalim kepadamu. Jika itu kamu lakukan maka Allah pasti memasukkanmu ke surga”(HR al Bazzar-Hakim)

Abu Hurairah ra menceritakan:

Seorang lelaki bertanya: “Wahai Rasulullah, saya memiliki kerabat. Saya menyambung mereka, lalu mereka memutuskanku. Saya berbuat baik kepada mereka, lalu mereka berbuat buruk kepadaku, dan saya bersikap memaafkan mereka, lalu mereka berbuat bodoh kepadaku” Rasulullah Saw bersabda:

لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيْرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلى ذلِكَ

“Jika kamu seperti yang kamu katakan, maka sungguh seakan kamu menyuapkan abu panas (di mulut) mereka dan bersamamu senantiasa ada orang yang menguatkan dari sisi Allah (untuk mengalahkan) mereka selama kamu seperti itu”

= والله يتولي الجميع برعايته =


Share on Google Plus

About tdmenha pujon

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar.. tapi mohon maaf untuk spam akan kami hapus langsung.