Kala Nurani Menginsafi dan Lidah Mengingkari

Kala Nurani Menginsafi dan Lidah Mengingkari

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَجَحَدُوْا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا

"Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan mereka, padahal hati mereka meyakini kebenarannya." (Q.S. An-Naml: 14)

Makna dan Penjelasan Ayat

Ayat ini berkaitan dengan kepribadian rezim Fir’aun. Fir’aun amat resah begitu juru ramal istana memprediksi akan ada bayi laki-laki Bani Israil kini yang akan menghancurkannya kelak. Keresahan itu lalu dilampiaskannya dengan membunuhi setiap bayi yang lahir laki-laki dari kalangan Bani Israil secara membabi-buta. Keresahan itu kemudian berubah menjadi kekesalan dan duka mendalam begitu dia sadar, bayi yang diramalkan itu bukan orang lain, melainkan anak angkatnya sendiri yang diasuhnya semenjak kecil, lebih dari 18 tahun.
Nurul Haromain
Bayi itu adalah Nabi Musa as. Namun, Nabi Musa as kini bukanlah Musa as kecil, karena sekarang beliau telah diangkat menjadi nabi dan rasul. Dia diperintah menyeru ayah angkatnya yang super arogan hingga mengaku tuhan itu sadar dan kembali kepada tauhid, dengan hanya mengesakan Allah swt, di samping diutus kepada bangsa Egipt (Qibthi, Mesir) dan Bani Israil.

Untuk kepentingan misi itu Allah swt telah menyokongnya dengan mukjizat berupa tongkat yang bisa berubah menjadi seekor ular besar dan tangan dapat mengeluarkan cahaya putih terang benderang. Beliau mendemonstrasikan dua mukjizat itu di hadapan Fir’aun dan para pembesar istana demi memperkuat seruan tauhidnya. Mereka berdecak kagum menyaksikannya. Namun, sekadar itu. Karena lambang-lambang kebenaran yang jelas terpampang di hadapannya itu tidak membuatnya insaf, malah menjadikannya bertambah arogan dan durhaka.

Baca Juga : Khutbah Jumat | Menata Niat

Bentuk arogansi dan kedurhakaan itu Fir’aun menuduh keajaiban yang ditunjukkan Nabi Musa as sebagai sekadar sihir, sihir tingkat tinggi dan sempurna untuk mengusir rakyat dari negeri Egipt, negeri yang didiami Fir’an. Tuduhan ini adalah bentuk agitasi dan provokasi kepada rakyat untuk tetap menyudutkan duta Allah swt itu. Bentuk lainnya adalah usaha Fir’aun mengumpulkan pakar-pakar sihir sedunia untuk menandingi “sihir” Nabi Musa as.

Fir’aun lalu menyebarkan bala tentara, intel, dan bawahannya mencari dan mengundang pakar sihir dari seluruh dunia untuk mengalahkan Nabi Musa as di samping melalui brosur dan pamflet.
Konon saat itu menurut Ikrimah (tokoh tabiin) hadir dan terkumpul 70.000 pakar sihir. Menurut Kaab, sebanyak 12.000 pakar sihir. Sementara menurut Ibnu Ishaq, pakar sihir yang hadir dan berkumpul waktu itu sebanyak 15.000 orang dari berbagai belahan dunia. Disepakati waktu itu, bila mereka menang, Fir’aun akan memberikan upah yang sangat besar. Fir’aun menambahkan bila menang mereka akan mendapat posisi terhormat di istananya. Sebuah support yang amat besar demi memenangkan harga diri atas Nabi Musa as. Dan dari awal, para pakar sihir itu datang dengan kelewat percaya diri bahwa mereka pasti menang.
Ditetapkanlah hari pertunjukan besar itu di sebuah lapangan terbuka di Iskandaria. Bersama itu, para punggawa Fir’aun melakukan ekspos besar-besaran pertunjukan itu kepada rakyat agar mereka hadir menyaksikan kemenangan para pakar sihir atas Musa as. Rakyat pun sama berduyun-duyun menyaksikan pertunjukan besar itu.

Dengan amat congkak, para pakar sihir bilang: “Wahai Musa, kamu yang mulai melemparkan lebih dahulu atau kita?!” Nabi Musa as dengan rendah mengatakan: “Lemparkanlah lebih dahulu.” Puluhan bahkan ratusan ribu pakar sihir itu lalu sama melemparkan tali temali dan tongkat-tongkat mereka seraya membaca mantra seperti diabadikan Al-Qur’an:

وَقَالُوْا بِعِزَّةِ فِرْعَوْنَ إِنَّا لَنَحْنُ الْغَالِبُوْنَ

"Mereka berkata: “Demi kekuasaan Fir’aun, sesungguhnya kami benar-benar akan menang.” (Q.S. Asy-Syuaraa’: 44)

Kala dilemparkan, tali temali dan tongkat-tongkat itu menyulap mata orang yang menyaksikan. Ribuan bahkan ratusan ribu tali temali dan tongkat-tongkat itu tampak seakan-akan berubah menjadi ular-ular kecil yang banyak sekali. Namun sekadar ilusi bukan hakiki. Sekadar sulap. Tetapi itu cukup membuat decak kagum hadirin. Para pakar sihir itu benar-benar mendatangkan sihir yang menakjubkan.

Kini giliran Nabi Musa as di saat para pakar sihir telah merasa di atas angin. Beliau melemparkan tongkat mukjizatnya dan berubahlah tongkat itu menjadi seekor ular raksasa yang menghebohkan. Ular raksasa itu menelan ular-ular ilusi para pakar sihir satu per satu hingga habis dan hendak menelan juga manusia di sekitarnya. Ini lebih menakjubkan lagi. Hadirin ribut. Nabi Musa as lalu memberi isyarat dan kembalilah ia menjadi tongkat seperti sedia kala. Hadirin tiada henti-hentinya berdecak kagum. Keajaiban ini menjadi bibit-bibit keimanan yang bersemi pada diri Asiah, istri Fir’aun sendiri.

Ribuan bahkan ratusan ribu pakar sihir menyaksikan kenyataan itu terpana. Mereka yakin, yang ditunjukkan Musa as bukanlah sihir, karena mereka memahami seluk-beluk dan berbagai jenis sihir namun tidak mendapati sihir semacam yang ditunjukkan Musa as. Mereka yakin itu adalah mukjizat dari Allah swt. Maka insaflah mereka. Mereka sadar. Menyesal.

Keinsafan akal yang dipadu dengan fitrah tauhid menggerakkan 15.000 pakar sihir tersebut tersungkur bersujud kepada Allah swt di lapangan terbuka itu sekaligus mendeklarasikan keimanannya. Dinyatakan dalam Al-Qur’an:

قَالُوْا آمَنَّا بِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ رَبِّ مُوْسَى وَهرُوْنَ 

"Mereka berkata: “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, Tuhan Musa dan Harun.” (Q.S. Al-A’raaf: 121-122)

Fir’aun murka dengan kekalahan memalukan ini. Tapi lebih murka lagi begitu disaksikan 15.000 pakar sihir yang didatangkannya justru beriman kepada Nabi Musa as, musuh besarnya, dan mendeklarasikan tauhid kepada Allah swt. Dia spontan keluar alasan untuk mendiskreditkan pakar sihir yang beriman itu. Katanya seraya geram: “Apakah kalian beriman kepadanya sebelum aku memberi izin? Sesungguhnya tragedi ini adalah muslihat yang kalian rencanakan bersama Musa di dalam kota ini untuk mengeluarkan penduduk darinya. Maka kamu akan mengetahui akibat perbuatan kalian ini.”

Fir’aun memutuskan para pakar sihir itu seluruhnya dipotong tangan dan kakinya secara bersilang untuk kemudian disalib di tiang gantungan. Keputusan berat dan kejam ini ternyata tidak menyurutkan keimanan mereka. Mereka tetap kokoh dengan tauhidnya. Mereka merespon keputusan itu dengan tabah dan tawakkal. “Silakan hukum kami; tidak ada kemudharatan bagi kami; sesungguhnya kepada Tuhanlah kami kembali,” kata mereka. “Dan kamu tidak membalas dendam dengan menyiksa kami melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami,” lanjut mereka kepada Fir’aun.

Para pakar sihir kemudian tidak lagi menggubris Fir’aun dengan keputusannya. Mereka berkonsentrasi menghadapkan diri kepada Allah swt semoga dikaruniai kesabaran dan mati dalam keadaan muslim. Bagi mereka, inilah resiko keimanan di samping sebagai penebus dosa-dosa mereka sebelumnya. Doa mereka:

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنَ

"Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (muslim)." (Q.S. Al-A’raaf: 126)

Inilah kisah keinsafan umat manusia yang luar biasa. Nurani fitrah yang dipadu dengan akal menumbuhkan rasa keimanan yang kokoh. Mereka rela dipotong tangan dan kakinya bersilang serta disalib demi mempertahankan nurani fitrahnya bertauhid kepada Allah swt. Berkaitan dengan keteguhan iman para pakar sihir ini, Qotadah (tokoh tabiin) berkata:

كَانُوْا فِى أَوَّلِ النَّهَارِ سَحَرَةً كَفَرَةً وَفِى آخِرِ النَّهَارِ شُهَدَاءَ بَرَرَةً

"Mereka di pagi hari pakar sihir yang kafir, sementara di sore hari mereka syuhada yang mulia-mulia."

Sementara Fir’aun dan bala tentaranya, sebagaimana disebutkan oleh ayat tema di atas, tetap tidak beriman, karena fitrah tauhidnya tertutup oleh arogansi kekuasaan dan sikap kesewenang-wenangan.

Pelajaran dari Ayat

Dari sini umat manusia pada dasarnya mengakui hakikat kebenaran bahwa hakikat kebenaran itu adalah tauhid atau agama Islam. Iblis, Fir’aun, Abu Lahab, dan orang-orang kafir pun nurani mereka bahkan mengakui tauhid (Q.S. Al-Mu’minun: 84-89 dan Q.S. Al-Ankabuut:  61 dan 63). Namun atas dasar cara berpikir mereka yang keliru, ditambah arogansi dan kedengkian yang meluap-luap, mereka menentang suara hatinya sendiri. Dan untuk merevolusi hati nurani, mengalihkannya dari fitrah, tentulah dibutuhkan rekayasa yang luar biasa. Maka berbahagialah umat manusia yang hati kecilnya menyadari hakikat kebenaran sementara lidahnya dapat mengekspresikan hakikat  kebenaran itu dengan baik. 

Wallahu subhanahu wata’ala a’lam.

Share on Google Plus

About tdmenha pujon

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar.. tapi mohon maaf untuk spam akan kami hapus langsung.