Jadilah Seorang Pemberani

Da’i itu Seorang Pemberani


Allah azza wajalla berfirman:

الَّذِيْنَ يُبَلِّغُوْنَ رِسَالاَتِ اللهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلاَ يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلاَّ اللهَ وَكَفَى بِاللهِ حَسِيْبًا

“Orang-orang yang menyampaikan risalah Allah serta merasa takut kepadaNya dan tidak takut kepada siapapun kecuali Allah. Cukup lah kiranya Allah sebagai Dzat Penolong” (QS al Ahzab:39)

Analisa Ayat

Nurul Haromain
Ayat ini adalah pujian Allah kepada orang-orang yang menyampaikan risalah-Nya kepada umat manusia dengan sepenuh amanah disertai rasa takut (khasy’yah) kepad-Nya serta sama sekali tidak gentar akan ancaman dari siapapun. Pertolongan dari Allah kiranya cukup menjadi jaminan keamanan.

Rasulullah Saw adalah figur terdepan dalam maqam ini, dan tentunya juga dalam seluruh maqam yang ada. Beliau adalah manusia yang paling besar rasa takutnya kepada Allah. Aisyah ra meriwayatkan;

"Suatu ketika Rasulullah Saw melakukan sesuatu kemudahan yang oleh sebagian (sahabat) dihindari. Hal ini sampai kepada beliau sehingga lalu bersabda:

مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَتَنَزَّهُوْنَ عَنِ الشَّيْئِ أَصْنَعُهُ؟ فَوَ اللهِ إِنِّي لَأَعْلَمُهُمْ بِاللهِ وَأَشَدُّهُمْ لَهُ خَشْيَةً

“Ada masalah apakah dengan kaum yang menghindari sesuatu yang telah aku lakukan; maka demi Allah sesungguhnya aku yang paling mengenal Allah di antara mereka dan yang paling kuat rasa takut kepadaNya”

Beliau adalah manusia yang paling pemberani sebagaimana:
  • Kesaksian Sayyidina Ali karramallahu wajhah:
“Sungguh pada perang Badar aku melihat diriku termasuk di bersama orang-orang yang berlindung dengan Nabi Saw. Beliau adalah orang yang paling dekat dengan musuh, dan paling kuat dalam bertempur” Ali juga mengatakan:

كُنَّا إِذَا حَمِيَ الْوَطِيْسُ...اتَّقَيْنَا بِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

 “Adalah kami jika perang berkobar dahsyat maka kami berlindung dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam”. Jadi bisa dijadikan standar di antara para sahabat bahwa yang paling pemberani di kancah peperangan adalah mereka yang paling dekat dengan Rasulullah Saw.
  • Pada perang Hunain  di saat banyak pasukan islam mundur, Rasulullah Saw tetap maju menyongsong musuh dengan keberanian sangat tinggi dengan hanya menunggangi hewan keledai yang dikenal bodoh dan susah diarahkan.
  • Pada suatu malam penduduk Madinah ketakutan oleh suara maka orang-orang pun bergegas menuju arah suara tersebut tetapi mereka justru sudah disambut oleh Rasulullah Saw yang telah mendahului mereka  mendatangi asal suara sambil bersabda: “Tak perlu ada yang ditakutkan” Ketika itu beliau menaiki kuda milik Abu Thalhah yang telanjang tanpa pelana dan tali kekang sambil mengalungkan pedang di leher.
Pasca Rasulullah Saw wafat maka maqom al Balagh, berdakwah menyampaikan risalah Allah kepada umat manusia, dilanjutkan dengan begitu bersemangat oleh para sahabat radhiyallahu anhum. Akan sangat panjang lebar jika membicarakan tentang rasa takut para sahabat kepada Allah dan keberanian mereka menghadapi musuh-musuh dakwah. Hal yang perlu digarisbawahi dalam ayat di atas bahwa seorang pendakwah harus senantiasa berproses menempa diri agar:

  • Memiliki hati yang memiliki rasa takut kepada Allah di mana rasa takut kepada Allah ini akan susah muncul kecuali dalam diri orang-orang yang memiliki pengertian luas tentang Allah, tentang Rasulullah Saw, dan tentang agama Allah. Semakin mengerti maka hati akan semakin merasa takut. Maka menambah ilmu melalui salah satunya mengikuti kajian-kajian rutin adalah suatu keniscayaan. Ingat firman Allah:
إِنَّمَا يَخْشَي اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang hanya  takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama”
  • Menjadi figur-figur yang pemberani, tidak canggung atau minder berhadapan dengan siapapun, tidak gentar menghadapi masalah apapun di medan dakwah. Dan yang sangat penting adalah berani menyuarakan kebaikan. Mendukung kebenaran dan menolak kebatilan; apapun resikonya.

Sebagaimana dilakukan oleh Imam Ahmad bin Hambal yang lebih memilih dan rela menjalani hukuman cambuk daripada dipaksa untuk mengatakan bahwa Alqur’an itu baru. Bahkan sekedar berdiplomasi supaya terhindar dari hukuman, beliau pun tidak mau melakukan dengan mengatakan: “Jika demikian, lantas kapankah kebenaran bisa menang!”.

Dan sebagaimana pula dilakukan oleh Imam Nasa’i. Ulama yang menetap di Mesir ini suatu ketika berkunjung ke Damaskus, ibukota islam Daulah Umawiyyah, tempat para loyalis Muawiyah dan kelurga besarnya. Kala itu di masjid-masjid sudah biasa terdengar caci maki dan laknat terhadap Sayyidina Ali ra. Sesampai di sana orang-orang memintanya agar mengatakan bahwa Muawiyah lebih utama dibandingkan dengan Ali karramallahu wajhah. Kejujuran sebagai seorang ahli hadits membuat beliau dengan sangat berani mengatakan: “Mengapa Muawiyah tidak rela sehingga bisa mengungguli Ali!?”. Ketika orang-orang bertanya hadits yang diriwayatkannya tentang keutamaan Muawiyah maka beliau menjawab: “Aku tidak mengetahui keutamaannya kecuali ada hadits;

لَا أَشْبَعَ اللهُ بَطْنَكَ

“Semoga Allah tidak mengenyangkan perutmu”

Kontan saja hal ini membuat mereka marah sehingga mengeroyok sang Imam, memukul dan menendangnya sehingga beliau sakit parah dan akhirnya meninggal dunia karena tindakan anarkis para pendukung Muawiyah yang fanatik tersebut.

=والله يتولي الجميع برعايته=

Share on Google Plus

About tdmenha pujon

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar.. tapi mohon maaf untuk spam akan kami hapus langsung.