Berdakwah dengan Enjoy

Berdakwah dengan Enjoy


Allah azza wajalla berfirman:

وَوَضَعْــنَا عَنْكَ وِزْرَكَ . الَّذِى أنَقْضَ ظَهْرَكَ 

“dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu yang memberatkan punggungmu“ (QS Alam Nasyroh:2-3)

Analisa Ayat

Ayat ini menceritakan kepada kita kondisi psikis yang dialami oleh Rasulullah Saw dalam mengemban misi risalah. Merasa berat dan begitu terbebani sehingga digambarkan dengan bahasa Anqadha yang memiliki arti membuat punggung bersuara kretek ketika memikul beban yang berat. Beban yang berat ini oleh para ahli tafsir dikarenakan beberapa faktor;

Nurul HaromainPertama : kondis umat jahiliyah di sekitarnya yang sama sekali tidak sesuai dengan karakter alamiah beliau yang memang dicetak oleh Allah sebagai seorang pribadi yang penuh dengan nilai tinggi dan norma yang mulia. Sementara mau tidak mau harus bergaul dengan mereka. Maka perasaan berat seperti ini kemudian dihilangkan oleh Allah ketika Allah telah mengangkatnya sebagai seorang utusan yang harus berdakwah, melakukan perbaikan tanpa melihat kondisi sekitar sebagai sebuah beban psikologis. 

Kedia : perasaan Rasulullah Saw yang masih saja memikirkan hal-hal yang pernah dilakukan sebelum diangkat sebagai seorang nabi. Dan ketika sudah diangkat menjadi nabi maka datang wahyu bahwa hal tersebut diharamkan sehingga beliau merasa telah melakukan dosa-dosa.  Dengan demikian maka ayat ini adalah pernyataan bahwa Allah telah menghapuskan seluruh kesalahan beliau sebelum menjadi seorang nabi.

Ketiga Rasulullah Saw melihat dosa-dosa umat sebagai bagian dari dosa-dosanya sehingga beliau merasa berat hati. Ini memang bagian dari sifat beliau;

...عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ...

“...berat baginya sesuatu yang memberatkanmu...”

Dan keempat : Beban yang dimaksudkan di sini adalah meninggalkan sesuatu hal yang lebih utama di mana oleh Rasulullah Saw  dinilai sebagai sebuah dosa sebagaimana dikatakan:

سَيـِّـــئَاتُ اْلأَبْرَارِ حَسَـنَاتُ الْمُقَرَّبِيْنَ

“Keburukan-keburukan yang dilakukan oleh kelompok al abror adalah masuk dalam ketegori kebaikan-kebaikan jika dilakukan oleh kelompok al muqarrabin”

Ada pula pendapat dari para ahli tafsir bahwa ayat ini merupakan penegasan tentang status Ishmah (kemakshuman) bagi Rasulullah Saw. Terlepas dari berbagai macam makna ayat ini, bagi kita harus bisa mengambil pelajaran inti dari ayat ini yaitu agar seorang da’i tidak merasa berat dan terbebani oleh dakwah yang dilakukan. Seorang da’i harus percaya diri ketika tampil menyuarakan dan memikul dakwah. Tidak perlu terganggu oleh bayang-bayang apapun; baik status sosial yang rendah karena tidak berharta dan tidak pula memiliki kedudukan, masa lalu yang hitam dan hal apapun yang secara umum bisa menjatuhkan mental. Bayang-bayang masa lalu yang kelam harus dihapuskan karena secara real adalah batu sandungan dalam  pribadi seorang da’i. Inilah yang sangat mungkin adalah salah satu hikmah dari sabda Rasulullah Saw yang memberikan bimbingan kepada para sahabat:

أَمِتْ أَمْرَ الْجاَهِلِيَّةِ

“Matikanlah urusan jahiliyah”

Hal ini agar para sahabat tidak terbayang-bayangi oleh masa lalu mereka yang tidak sedikit adalah masa lalu kelam; penuh dengan kemaksiatan dan kerendahan. Pembangkangan kepada Allah dan RasulNya. Kepada Amar bin Ash ra juga bersabda:

أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ اْلإِسْلاَمَ يَهْدِمُ  مَا كَانَ قَبْلَهُ؟

“Tidak kah kamu mengerti bahwa Islam menghapuskan apa-apa (dosa dan kesalahan) sebelumnya” 

Bimbingan Rasulullah Saw ini begitu efektif membuat para sahabat berdakwah secara total dan begitu percaya diri. Mereka begitu bersemangat menyebarkan dakwah, meski sebelumnya adalah seorang yang paling keras dalam menjegal langkah dakwah. Kita pun harus demikian; dalam berdakwah tidak perlu lagi terganggu oleh bayang-bayang masa lalu sebelum mengenal dakwah, sebelum mengikuti dan beriman dengan dakwah.

Baca Juga : Mencari Teman

Berdakwah dengan tanpa merasa terbebani dan dengan penuh percaya diri sangat terkait pula dengan sikap tawadhu’. Selain karena sikap tawadhu’ diyakini sebagai sesuatu yang akan membuat derajat seseorang terangkat, sikap tawadhu’ harus pula diketahui sebagai sikap yang akan menuntun seseorang pada rasa percaya diri. Sikap tawadhu’ juga akan menuntun seorang da’i untuk selalu mengedepankan amal sebelum ilmu serta membuatnya lebih banyak memberikan teladan daripada hanya sekedar pesan-pesan atau dalam bahasa lain sikap tawadhu’ akan menampilkan seorang da’i sebagai seorang yang lebih banyak menampakkan suluk (akhlak) daripada ilmunya.

Selain agar tidak merasa terbebani oleh masalah pribadi, salah satu dari makna ayat ini seperti tersebut di atas juga memberikan bimbingan agar seorang da’i berusaha sekuat tenaga untuk tidak terjatuh dalam dosa-dosa atau terlibat dalam masalah-masalah yang justru membuatnya terjebak hingga melupakan dakwah sebagaimana kasus para  da’i yang terlibat dalam masalah politik praktis.

=والله يتولي الجميع برعايته=


Share on Google Plus

About tdmenha pujon

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar.. tapi mohon maaf untuk spam akan kami hapus langsung.