Husnuzzhon

Husnuzzhon adalah Bagian dari Perbaikan Kualitas Ibadah

Berbaik sangka (Husnuzzhon) adalah sebuah akhlak yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang baik, dan seseorang sudah cukup dikatakan sebagai orang baik jika orang tersebut adalah seorang mukmin. Yakni seseorang yang memiliki keimanan kepada Allah, bukan hanya sekedar muslim. Sebab muslim masih dalam batas ekspresi fisik, sementara keimanan berkaitan dengan keadaan hati. Sayyidina Ali pernah berkata:

المؤمن اذا قال صدق و اذا قيل صدق

Seorang mukmin ketika berkata maka ia jujur, dan ketika diajak bicara ia membenarkan.

Ketika kita bertemu seseorang dan dikatakan bahwa orang tadi mukmin, maka bisa dipastikan dia adalah seseorang yang jujur. Sebab antara mukmin dan kejujuran adalah dua hal yang mesti melekat. Keimanan dan kedustaan tiada mungkin berkumpul dalam satu tubuh.

Berbaik sangka adalah sebuah akhlak yang sangat berkaitan dengan keselamatan hati. Sementara untuk mudah sampai kepada Allah, seseorang harus selalu menjaga keselamatan hati.

Maqam Rusydu tidak akan didapat hanya dengan modal kecerdasan dan kejeniusan akal belaka, hanya dengan rajin shalat dan puasa saja, tapi ia bisa diraih dengan mengusahakan keselamatan hati, dermawan dengan potensi yang ia miliki, dan berkasih sayang terhadap sesama.

Hati tidak akan pernah selamat jika masih memiliki sifat suuzhon. Hanya saja memang boleh suuzhon kepada orang kafir dan munafiq. Allah ta'ala berfirman:

وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ ۚعَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ ۖوَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ ۖوَسَاءَتْ مَصِيرًا

"Dan Dia (Allah) hendak mengazabkan orang munafik laki-laki dan perempuan, dan orang musyrik laki-laki dan perempuan, yang berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran yang amat buruk, dan kemurkaan Allah ke atas mereka, dan laknat-Nya (Allah) ke atas mereka, dan disediakan untuk mereka Neraka Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali."(Al Fath:6)

Nurul HaromainDalam ayat diatas dalam redaksi diungkapkan istilah: "zhonnussau’". Ada pengidlofahan lafal "zhon" kepada lafal "sau'", prasangka yang bersemayam pada hati yang jelek, padahal sebenarnya zhon itu sendiri sudah jelek. Sebuah istilah yang disematkan untuk orang-orang kafir dan munafik. Adapun sifat yang  dimiliki oleh seorang mukmin dikenal dengan su’uzhon, dengan pengizhofahan lafal "suu'" dengan "zhon". Sehingga menunjukkan masih ada kemungkinan husnuzhon.

Asas dalam beribadah agar diterima oleh Allah harus memenuhi dua hal, yakni keikhlasan, yang letaknya tidak lain juga dihati dan ittiba' ikut dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah.

Ibadah semestinya tidak hanya melalui jalur melakukan sebuah kewajiban atau kesunnahan, tapi juga ibadah yang bentuknya adalah upaya membuat Allah senang. Bagaimana kemudian menjalar kepada menyenangkan orang lain, dengan cara berakhlaq dengan meniru sifat-sifat Allah, seperti memberikan sifat kasih sayang kepada orang lain, mendahulukannya, memaafkannya, dermawan dengan apa yang dipunya.

Berkasih sayang semestinya diwujudkan dengan sikap kita yang tidak lagi mau melakukan satu hal yang membuat orang lain merasa terganggu .Entah terganggu secara fisik, harta, kehormatan, atau sampai pada perasaannya. Husnuzhon penting dilakukan agar seseorang tidak terjebak pada perbuatan yang menyakiti orang lain. Sementara suuzhon adalah gerbang yang menjurus kepada perbuatan menyakiti orang lain, sehingga berimbas munculnya hobi mencari kejelekan orang lain, membicarakan kejelekannya, dan memunculkan kedengkian. Suuzhon adalah pemicu timbulnya kekecewaan dari orang lain.

Seseorang terkena duri kecil saja sudah diampuni dosanya, maka jika sampai sekarat berhari-hari dengan keadaan parah seperti itu bisa jadi dosanya habis sama sekali.

Ketika kita melihat orang mati dalam keadaan melet, maka tidak boleh suuzhon.  Sebab hal itu tidak bisa menentukan bahwa orang tersebut suul khotimah, atau tidak.

Seorang Kyai begitu sholeh tapi anaknya nakal, maka harus tetap di husnuzzhoni, kyai mendidik anaknya dengan begitu maksimal, tapi ia diuji dengan anak yang nakal. Jangan dikatakan kyai tukang mendidik orang, tapi tidak bisa mendidik anak sendiri, kyai apa itu?. Sebab perkataan seperti ini amat menyakitkan.

Kini bermunculan Jamaah takfiri yang hobi mengkafirkan, jamaah tabdi’ yang suka membid'ahkan dan jamaah dlolalah, yang senang mengklaim sesat. Padahal masalahnya masih dalam lingkup ijtihadiyah, namun memandang pihak yang berbeda langsung dengan entengnya mengklaim kafir, yang mengherankan mereka memiliki hafalan al-Qur'an yang demikian banyak, tapi sayang hanya sampai pada tenggorokan dan tidak bisa turun ke hati, sebab mereka memiliki hijab hati yakni suuzhon bil muslimin. Pada akhirnya Ilmu tidak menjamin, maka ada banyak tipe kyai: kyai tutur, kyai tandur, kyai lamur, kyai sembur, akhir-akhir ini muncul kyai ngawur, dan kyai ngluyur.

Perlu kembali kepada firman Allah terkait suuzhon, al hujurot ayat 12

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang."

Seharusnya orang lebih banyak husnuzzhon, tapi kebanyakan justru berlaku suuzhon, seseorang demikian hobi mencari kesalahan orang lain, tapi kepada aib dan kesalahan dirinya sendiri tidak merasa. Menyakiti orang lain menjadi hobi yang sering ia lakukan.  Jika ada orang lain mendapatkan nikmat ia sering kali melancarkan suuzhon kepada mereka

Seorang politikus seorang kritikus. Biasanya sering suuzhon. Hanya saja mengenai seleksi hadits yang demikian ketat sampai dikenal proses jarhwatta’dil, maka ini demi kepentingan validitas hadits yang tidak masalah.

Baca Artikel Lainnya : "Sedekah Pembersih Dosa"

Masyarakat surga tidak memiliki ghil, tidak punya ganjalan. Maka jika kita ingin menuju surga, kita harus berusaha melepaskan ghil mulai dari saat masih berada di dunia. Berusaha membaikkan prasangka kepada mereka.

Ada seseorang yang demikian benci dengan Abu Hanifah. Sebab ijtihadnya yang lebih mengandalkan logika dan pemikiran dibanding dalil. Disetiap saat ia sering menghinanya dengan ucapannya, "Abu Hanifah Jifah!", Abu Hanifah Bangkai!. Pada akhirnya suatu saat ketika seluruh keluarganya keluar rumah, ia ditemukan oleh tetangganya meninggal dalam keadaan mayat yang sudah membusuk.

Menyakiti wali Allah berarti menyakiti Allah ta’ala,

من اذى لي وليا فقد اذنته بالحرب

Barang siapa yang menyakiti wali-Ku maka sungguh Aku beri izin ia untuk diperangi

Semoga kita bisa memproses husnuzhon di jiwa kita, menjadikannya penghias hidup yang mampu mengantarkan kita ke negeri akhirat dengan bahagia. Amin.

Share on Google Plus

About tdmenha pujon

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar.. tapi mohon maaf untuk spam akan kami hapus langsung.