Sedekah Menambah Harta

Sedekah Menambah Harta

Ketika memiliki uang sejumlah 1.000.000 rupiah dan kita mengeluarkannya seratus ribu untuk bersedekah maka secara kasat mata uang kita tinggal 900.000 rupiah, berkurang seratus ribu. Meski  begitu ternyata Rasulullah Saw justru memberikan bimbingan:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ...
“Sedekah tidak mengurangi harta benda...”

Abuya As Sayyid Muhammad al Maliki menjelaskan: "Jumlah harta yang secara zhahir berkurang tergantikan oleh keberkahan yang samar. Hal ini bisa dan sudah biasa terlihat dalam fakta. Atau meski secara zhahir berkurang tetapi pahala yang disiapkan di akhirat bisa menutupi kekurangannya".

Keyakinan bahwa sedekah tidak mengurangi harta sebagaimana hadits di atas,  dan bahkan bisa menjadi sebab harta berkah dan bertambah, juga selaras dengan kisah shahih yang dikisahkan oleh Rasulullah Saw:

Ketika seseorang sedang berada di sebuah tanah lapang, tiba-tiba  ia mendengar suara di awan: “Siramlah kebun orang itu!”. Awan tersebut terus bergerak dan akhirnya menuangkan airnya (menurunkan hujannya) di sebuah tanah tandus berbatu.  Ternyata di tanah tandus itu telah terbentuk beberapa saluran air. Aneh, seluruh air hanya mengalir dan terkumpul di salah satu saluran air. Lelaki itu segera meneliti dan mengikuti hingga akhirnya menemukan seorang (petani)  di sebuah kebun dan  sedang asyik mengambil air (untuk menyirami kebunnya). “Wahai hamba Allah, siapa namamu?” tanya si lelaki. Si petani lalu menyebutkan nama, persis dengan nama yang disebut oleh suara di awan. Si petani balik bertanya: “Wahai saudara, mengapa bertanya nama saya?” Lelaki itu pun menjelaskan: “Tadi di awan yang lalu menurunkan hujan dan airnya (mengalir) ke sini, aku mendengar suara; Siramlah kebun orang itu, persis namamu. Lalu apa yang engkau lakukan di kebunmu”

Petani berkata: “Jika anda bercerita demikian, maka sungguh saya melihat hasil darinya. Lalu saya menyedekahkan sepertiga, seperti lagi saya makan dengan keluarga , dan sisa sepertiganya saya pergunakan untuk kembali (sebagai modal menanam) di dalamnya” dalam sebuah riwayat: “Dan sepertiganya saya pergunakan untuk menyantuni orang-orang miskin, para peminta dan orang yang sedang dalam perjalanan”.

Keyakinan dan fakta masa silam tersebut memberikan kepada kita sebuah informasi berupa tips bagi siapa saja yang ingin meraih kekayaan maka selain secara zhahir berusaha dengan jujur , serius dan maksimal, maka juga harus menyisihkan anggaran untuk bersedekah.  Hal inilah yang telah dilakukan oleh banyak orang kaya masa lampau maupun masa sekarang. Mereka mendapatkan kekayaan berlimpah bukan semata karena kejujuran, kerja keras dan kepandaian semata. Akan tetapi juga sebagai pahala sedekah (kedermawanan) mereka.

Nurul HaromainDalam kehidupan di sekitar kita, ada banyak sekali cerita orang yang sukses secara ekonomi di mana apabila ditelusuri, maka di balik kesuksesan tersebut pasti ada amal shaleh yang telah dilakukan. Dan ternyata kebanyakan amal tersebut adalah berupa kedermawanan, berupa sedekah yang sering dikeluarkan baik oleh yang bersangkutan secara langsung atau oleh orang tuanya.  

Dalam sebuah seminar, seorang pengusaha sukses di negeri ini yang sering road show memberikan motivasi usaha mandiri, ditanya oleh salah seorang peserta: “Dalam kaca mata Aqidah Islam, tidak ada yang namanya kehidupan enak, sukses atau apapun namanya kecuali pasti sebelumnya didahului oleh amal shaleh. Kiranya adakah amal shaleh yang bapak lakukan atau oleh orang tua bapak sehingga sekarang ini bapak menjadi salah seorang konglomerat  muslim di Indonesia?”

Pertanyaan ini sempat membuat si pengusaha terdiam, berfikir dan akhirnya mau bercerita: “Baiklah, semoga ini bukan pamer, tetapi semata-mata cerita yang semoga bermanfaat” dia melanjutkan: “Rumah saya kebetulan berada dekat dengan pasar, dan setiap hari ibu senantiasa duduk di teras rumah untuk melihat barangkali ada seorang pengemis. Jika sudah melihatnya maka ibu segera memanggil dan mempersilahkan pengemis itu masuk rumah dan menikmati kopi atau bahkan sarapan seadanya. Begitulah keseharian ibu. Senantiasa menyisihkan sedikit yang dimiliki untuk berbagi dengan orang lain meski beliau seorang janda dengan tiga orang anak dan hanya mendapatkan penghasilan dari gaji sebagai PNS rendahan”.  Pengusaha itupun menutup jawaban: “Dan alhamdu lillah hingga hari ini di rumah saya, setiap pagi pasti menyediakan  makanan yang cukup untuk sarapan bagi kurang lebih 200 orang; dari para kuli di pasar, tukang becak dan siapa saja yang mau”

Kemantapan hati bahwa sedekah menambah harta harus dimulai dari keyakinan bahwa Allah pasti memberikan ganti secara tunai dari segala sesuatu yang kita berikan kepada orang lain atau yang kita gunakan untuk membiayai kepentingan perjuangan di jalan Allah, sebagaimana firman Allah:

…وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْئٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ, وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ

“…dan barang apa saja yang kamu infakkan maka Allah akan menggantinya. Dan Dia-lah sebaik-baik Pemberi rizki”

Baca Artikel Lainnya : "Mengasah Kekuatan Firasat"

Pemberian ganti di sini maksudnya adalah di dunia dan Insya Allah sekaligus di akhirat. Terkait pemberian ganti di dunia, maka juga disebutkan dalam kisah seorang sahabat bernama Qoes bin Sila’ al Anshari ra. Saudara-saudara Qoes mengadukannya kepada Rasulullah Saw bahwa dirinya telah menyia-nyiakan (tabdzir). Qoes pun memberikan penjelasan: “Wahai Rasulullah, saya mengambil bagian kurma saya dan lalu saya menginfakkannya di jalan Allah serta memberikannya kepada teman seperjuangan” mendengar penjelasan ini, sambil menepuk dada Qoes, Rasulullah Saw bersabda:

أَنْفِقْ يُنْفِقِ اللهُ عَلَيْكَ
“Berinfak lah maka Allah selalu akan berinfak kepadamu”

Qoes memberikan kesaksian: "Sesudah peristiwa tersebut aku pergi untuk berjihad di jalan Allah dengan membawa unta kendaraanku. Dan pada hari ini, diriku menjadi yang terkaya di kalangan keluargaku."

Dalam teori motivasi Kang Ippo, sedekah, baik ikhlas atau tidak, pasti dibalas. Meski demikian perlu ditegaskan di sini bahwa jika sedekah itu ikhlas, tulus semata karena Allah niscaya Allah memberikan ganti lebih, dan bahkan jauh lebih banyak.  Seorang teman pernah bercerita bahwa suatu ketika ia menginfakkan semua hasil panen senilai 2 juta rupiah. Untuk mendapatkan hasil ini ia harus menunggu waktu kurang lebih 4 bulan. Pada panen berikutnya, subhanallah, ia mendapatkan hasil panen senilai 7 juta rupiah dari tanah yang sama dalam tempo waktu hanya 2 bulan berikutnya. Mungkin sekali saat menginfakkan 2 juta dulu ia betul-betul ikhlas sehingga Allah memberikan ganti lebih banyak dan lebih cepat.

Seorang peminta berdiri di depan pintu rumah Ali ra. Kepada Hasan atau Husen, Ali ra berkata: “Datanglah ke ibu kalian dan katakan, Aku tadi meninggalkan uang sejumlah enam dirham, maka berikanlah satu dirham!” Hasan atau Husen lalu datang ke sang ibu dan tidak lama kemudian kembali kepada sang ayah. Ia berkata: Ibu mengatakan bahwa uang itu untuk membeli tepung. Ali ra berkata: “Belum serius iman seorang hamba sampai ia lebih percaya dengan apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tangannya” Ali ra melanjutkan: “Datanglah kepada ibumu dan ambil enam dirham seluruhnya!” Fathimah ra pun memberikan enam dirham tersebut yang lalu oleh Ali ra diberikan kepada si peminta.

Tidak lama kemudian seseorang bertemu dengan Ali ra dan menawarkan untanya. Ali bertanya: “Berapa harga jual untamu?” ia menjawab: “Seratus empat puluh dirham” Ali ra pun setuju membeli unta itu dengan syarat pembayaran tempo. Lelaki itu setuju. Tak lama kemudian seorang lelaki datang dan melihat ada unta yang bagus.  Ia bertanya: “Milik siapa unta ini?” Ali ra menjawab: “Milik ku” .“Apakah anda menjualnya?” Tanya si lelaki. Ali menjawab: “Ia” lelaki itu bertanya: “Berapa harganya?” Ali ra menjawab: “Dua ratus dirham” lelaki itu menjawab: “Saya membelinya”.

Setelah serah terima dilakukan maka Ali ra segera membayar lunas harga unta kepada lelaki yang pertama. Sesudah itu beliau pun pulang dan menyerahkan 60 dirham kepada Fathimah ra. Fathimah ra bertanya: “Apakah ini?” Ali ra menjawab: “Inilah janji Allah melalui lidah nabiNya, “Barang siapa datang dengan satu kebaikan maka baginya sepuluh kebaikan” QS al an’am:160.

= والله يتولي الجميع برعايته =

Share on Google Plus

About tdmenha pujon

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar.. tapi mohon maaf untuk spam akan kami hapus langsung.