Sedekah kepada Orang Shaleh

Sedekah kepada Orang Shaleh


Selain dituntut beriman kepada Rasulullah Saw, para sahabat secara khusus dan umat secara umum juga diajarkan berbagai macam hal terkait sikap kepada Rasulullah Saw. Di antara hal yang dimaksudkan adalah seperti firman Allah azza wajalla:

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ... 

“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri…” 

Rasulullah Saw bersabda: 

وَالَّذِي نَفْسِيْ بِيَدِه ، لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ نَفْسِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

“Demi Dzat yang diriku berada di tanganNya, tidak sempurna iman salah seorang kalian sehingga aku menjadi lebih dicintai olehnya daripada dirinya sendiri, harta bendanya, anaknya dan manusia seluruhnya”
Nurul Haromain

Ajaran ini begitu total bisa diamalkan oleh para sahabat sehingga mereka rela mengorbankan apa saja demi Rasulullah Saw, baik nyawa, keluarga apalagi harta benda. Oleh karena itulah banyak sekali kisah perhatian mereka kepada Rasulullah Saw terkait dengan harta benda. Begitu banyak model dan warna yang mereka tampilkan untuk menunjukkan rasa cinta kepada Rasulullah Muhammad Saw. Salah satunya adalah dengan senang hati memberikan hadiah kepada Rasulullah Saw. Baik berupa makanan, dirham dan dinar, kendaraan, pakaian dsb. Termasuk juga memberikan tanaman-tanaman kurma untuk dipetik hasilnya oleh Rasulullah Saw sebagaimana dalam bab sedekah penghasilan (maniihah). Anas bin Malik ra meriwayatkan:

كَانَ الرَّجُلُ يَجْعَلُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّخَلَاتِ حَتَّي افْتَتَحَ قُرَيْظَةَ وَالنَّضِيْرَ فَكَانَ بَعْدَ ذلِكَ يَرُدُّ عَلَيْهِمْ

“Adalah seseorang memberikan kepada Nabi Saw beberapa pohon kurma sampai beliau Saw menaklukkan (Bani) Quraizhah dan (Bani) Nazhir. Maka, sesudah itu beliau mengembalikan kepada mereka” 

Ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari hadits ini. Antara lain:

  1. Perlunya seorang pemimpin mendapatkan alokasi dana untuk keperluan keluarga dan aktivitasnya sebagai seorang pimpinan yang tentu memerlukan dana yang dalam istilah sekarang disebut dengan dana taktis
  2. Perlunya seorang murid memberikan sesuatu sebagai hadiah kepada guru; baik gurunya sendiri maupun guru anaknya. Pelajaran ini juga bisa kita ambil dari kisah tawanan perang Badar yang bisa mendapatkan kebebasan tanpa tebusan dengan mengajar baca tulis sepuluh anak Madinah. Juga kisah ketika Imam Abu Hanifah memberikan uang lima ratus dirham kepada seorang guru yang mengajarkan Alqur’an kepada anak beliau
  3. Perlunya kita bersedekah kepada orang baik atau orang shaleh yang dalam kondisi umat manusia seperti sekarang ini barangkali mewujud pada seseorang yang berpredikat sebagai santri, ustadz, kiyai atau da’i. Meski tidak semua dari mereka bisa dipastikan kebaikan dan keshalehannya, dan bukan pula orang selain mereka pasti tidak baik dan tidak shaleh, akan tetapi barangkali pada kalangan mereka lah kebaikan dan keshalehan itu mudah ditemukan. Apalagi merekalah yang mewarisi dan meneruskan perjuangan Rasulullah Saw sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. 
Pemahaman seperti ini mengacu kepada prinsip dan sikap orang-orang terdahulu yang secara khusus memberikan hadiah-hadiah kepada kalangan yang dalam bahasa sekarang disebut religius yaitu para habaib (keturunan Rasulullah Saw), ulama, kiyai, ustadz dan santri. Rasulullah Saw bersabda:


لَا تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا ولَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ

“Jangan berteman kecuali dengan orang mukmin. Dan jangan memakan makananmu kecuali orang shaleh” 

Para ulama mengatakan bahwa yang dimaksud di sini adalah makanan undangan, dan bukan makanan kebutuhan. Artinya apabila membutuhkan, maka siapa saja berhak untuk diberi makanan. Sementara jika mengundang orang lain untuk makan, maka sebaiknya mengundang orang-orang yang baik. Di samping itu juga bisa dimengerti perlunya memberikan sesuatu sebagai hadiah atau penghormatan kepada orang-orang yang baik (orang-orang shaleh). 

Di samping dilakukan oleh para sahabat ra kepada Rasulullah Saw, tradisi berupa secara khusus memberikan sesuatu kepada orang shaleh juga dilakukan oleh para ulama dan orang-orang shaleh terdahulu. Disebutkan bahwa Qadhi Abu Syuja’ yang bernama asli Ahmad bin Hasan bin Ahmad al bashri (lahir 434 H), penulis Matan Taqrib, kitab fiqih madzhab Imam Syafii yang sangat dikenal kalangan kaum muslimin dunia, beliau asal mulanya adalah seorang pejabat tinggi yang kaya raya. Kedermawanannya merata dirasakan oleh banyak orang terutama orang-orang shaleh Bashrah. Pada akhir hayat beliau berkhidmah menjadi tukang sapu masjid nabawi, menggelar dan merapikan tikar-tikar masjid serta menyalakan lampu masjid sampai beliau wafat di Madinah. 

Adalah Imam Ghazali. Sang ayah secara ekonomi bisa disebut orang miskin, tetapi memiliki keshalehan. Beliau tidak memiliki penghasilan untuk mencukupi keluarga kecuali dari hasil karya kedua tangannya membuat produk kain dari bulu. Di luar waktu untuk bekerja menghidupi keluarga, beliau secara rutin menyempatkan waktu berkunjung kepada para ahli ilmu agar bisa bergaul dan berkhidmah kepada mereka. Bukan sekedar berkhidmah, akan tetapi jika ada kesempatan maka beliau sangat gemar memberikan sekedar yang dimiliki kepada mereka. Seringkali saat mendengar mutiara-mutiara ilmu dari mereka maka beliau menangis dan menengadah memohon kepada Allah supaya mendapatkan karunia seorang anak dan menjadikannya sebagai ahli ilmu. Dalam situasi yang berbeda di kala beliau menghadiri majlis para pemberi nasehat maka beliau menangis dan memohon kepada Allah agar diberikan karunia seorang anak pemberi nasehat.

Kedua permohonan Syekh Muhammad tersebut dikabulkan oleh Allah. Beliau akhirnya memiliki dua orang putera yang bernama Muhammad dan Ahmad. Di kemudian hari Muhammad menjadi seorang alim yang ilmunya memenuhi jagat raya dan terkenal dengan sebutan Imam Ghazali. Sedangkan Ahmad pun akhirnya menjadi seorang penceramah dan pemberi nasehat yang mampu menggetarkan hati para hadirin dan membuat mereka menangis terseduh karena Allah .

Baca Artikel Lainnya : "Fadhilah Sholawat Ummiyah"

Prinsip memberikan perhatian kepada orang shaleh berupa memberikan hadiah secara khusus ini juga telah dianut dan diteladankan oleh guru besar As Sayyid Muhammad al Maliki. Selama berkhidmah kepada beliau, murid beliau KH Ihya’ Ulumiddin menceritakan seringkali diperintahkan untuk membawa hadiah-hadiah kepada orang-orang shaleh di Indonesia. Misalnya suatu saat KH Ihya’ Ulumiddin diperintahkan untuk datang kepada seorang tokoh yang shaleh untuk menawarkan supaya berangkat haji dengan biaya seratus persen dari As Sayyid. Sayang tawaran ini ditolak oleh tokoh tersebut dengan mengungkapkan alasan yang cukup sederhana: “Haji itu diwajibkan hanya untuk orang yang mampu” .

Dan hingga hari ini, lebih sepuluh tahun dari kewafatan beliau, ternyata hadiah-hadiah untuk orang-orang shaleh yang dulu pernah dilakukan secara rutin oleh beliau, juga diteruskan oleh putera beliau As Sayyid Ahmad bin Muhammad al Maliki.

Memberi hadiah kepada orang alim yang shaleh memiliki hikmah supaya hati mencintai dan memuliakan mereka yang merupakan salah satu dari sekian banyak simbol Allah di muka bumi. Rasulullah Saw bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَـمْ يُجِلَّ كَبِيْرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

“Bukanlah termasuk dari kami, seorang yang tidak memuliakan orang tua, tidak mengasihi yang muda dan tidak mengerti hak orang alim kami “ 

Dan atas anugerah Allah azza wajalla syariat ini begitu semarak dijalankan oleh umat Islam Indonesia, terutama oleh komunitas pesantren di mana kebanyakan dari para santri, wali santri dan para alumni berlomba-lomba dalam kebaikan berupa berusaha menyisihkan sebagian rizki yang dimiliki untuk diberikan kepada guru mereka. Kita melihat betapa banyak dari mereka ketika berjabat tangan saat sowan atau bertemu sang guru, pasti memberikan amplop yang berisi sedikit uang yang mereka miliki. Hal ini sangat berbeda dengan tradisi umat islam negara lain. Brunei Darussalam misalnya, masih bersumber dari KH Ihya’ Ulumiddin yang pernah berkhidmah menyertai Guru Besar As Sayyid Muhammad al Maliki dalam perjalanan dakwah di Brunei Darussalam. KH Ihya’ Ulumiddin bercerita bahwa saat itu dalam setiap momen acara, selalu As Sayyid mendapatkan cindera mata dari komunitas umat islam Brunei yang dikunjungi sehingga banyak cindera mata didapatkan. Akhirnya As Sayyid Muhammad al Maliki berkomentar dalam sebuah kesempatan: “Apa cindera mata?! Yang penting fulus (uang)”. 


= والله يتولي الجميع برعايته =

Share on Google Plus

About tdmenha pujon

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar.. tapi mohon maaf untuk spam akan kami hapus langsung.