Berjiwa Sosial Tinggi

Da’i Berjiwa Sosial Tinggi


Allah azza wajalla berfirman:

يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا ارْكَعُوْا وَاسْجُدُوْا وَاعْبُدُوْا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, ruku’lah dan sujudlah kalian, dan sembahlah Tuhan kalian serta lakukanlah segala kebaikan agar kalian beruntung” (QS al Hajj: 77)

Analisa Ayat
Nurul Haromain

Ayat ini memiliki inti makna yang sama dengan sekian banyak ayat lain yang setiap kali ada perintah shalat maka pasti ada perintah sedekah dalam berbagai pengertiannya yang luas. Bedanya dalam ayat ini juga sekaligus disertai dengan jaminan bahwa barang siapa bisa memiliki hubungan yang baik dengan Allah yang didasari dengan shalat yang sempurna (“ruku’ dan sujudlah”) serta juga menanam dan menyebarkan benih-benih kebaikan di kalangan makhluk Allah “lakukanlah segala kebaikan” maka ia akan merengkuh sukses dalam kehidupan. “...agar kalian beruntung” yang maknanya pasti kalian mendapat keberuntungan

Abuya As Sayyid Muhammad Alawi al Maliki menjelaskan:

Seorang muslim yang terbina selalu bersegera melakukan kebaikan. Ia memiliki semangat luar biasa untuk bisa memberikan manfaat kepada orang lain dalam komunitasnya. Jika melihat ada kesempatan melakukan hal itu maka ia tidak betah jika tidak segera menjarahnya karena ia mengerti bahwa berbuat kebajikan adalah jalan menuju keberuntungan

Jadi ayat di atas bersifat umum bahwa barang siapa mendambakan kesuksesan maka ia harus berbuat baik kepada orang lain. Ia harus memiliki keshalehan sosial. Bagi seorang juru dakwah maka ayat ini adalah salah satu panduan utama meraih sukses dalam dakwahnya. Selain membangun hubungan kuat dengan Allah (shilah billaah), seorang juru dakwah harus pula memiliki jiwa sosial yang tinggi. Dakwah tidak boleh terbatas dilakukan atau disebar luaskan hanya dengan memberikan nasehat melalui kata-kata dalam forum pengajian atau tulisan-tulisan indah di media. Akan tetapi harus pula dilakukan dalam bentuk aksi nyata membangun komunikasi yang baik dengan obyek dakwah. Komunikasi dengan obyek dakwah tidak semestinya terjadi hanya satu arah. Jika obyek dakwah memberi sesuatu maka seorang juru dakwah harus berusaha mendahului untuk memberi atau paling tidak membalas pemberian itu sebisanya.

Apabila obyek dakwah sedang sakit maka seorang juru dakwah harus menjenguknya. Begitu pula dengan berbagai macam kebaikan yang lain. Seorang da’i harus bisa memberikan teladan.
Hal demikian inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Terlalu banyak fakta yang tercatat bahwa beliau biasa memberi dan membalas pemberian dengan pemberian serupa atau bahkan jauh di atas yang diterimanya. Aisyah ra meriwayatkan:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ وَيُثِيْبُ عَلَيْهَا

"Sesungguhnya Nabi Saw senantiasa menerima hadiah dan memberikan imbalan balik atasnya"

Beliau seringkali menyempatkan waktu untuk berkunjung ke orang yang sakit sebagaimana dalam kisah Rasulullah Saw yang menjenguk Saad bin Abi Waqqash ra yang sedang sakit. Jadi berbuat baik adalah salah satu usaha menyebarluaskan dakwah. Ia, dakwah sebagaimana tersebar lewat lidah, tulisan dan media pemberitaan, ia juga bisa tersebar melalui berbuat kebajikan kepada sesama (obyek dakwah). Inilah yang dilakukan secara serius oleh misi (zending) kristenisasi.

Baca Artikel Lainnya : "Taqwa Pelebur Dosa"

Jika dalam prinsip pencari ilmu, ber-khidmah kepada guru, teman dan pesantren menjadi salah satu dasar kesuksesan, maka bagi seorang da’i, khidmah kepada masyarakat adalah pondasi meraih kesuksesan dalam berdakwah. Ketika kaki melangkah di medan perjuangan (dakwah), saat itu pula harus diniatkan dan dibulatkan tekad mengabdi kepada masyarakat dengan segala kemampuan yang dimiliki; kekuatan fisik, ilmu dan harta benda. Da’i harus bertekad melayani, bukan ingin dilayani. Prinsip ini apabila bisa dilaksanakan maka akan mengukir kesan indah dan mendalam di hati umat. Inilah yang dimaksudkan oleh Allah dalam lanjutan ayat di atas:

وَجَاهِدُوْا فِى اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ......
“Dan berjihadlah di jalan (agama) Allah dengan sepenuh jihad”

Imam Ibnu Kastir mengatakan: “sepenuh jihad” artinya dengan harta benda, lidah dan diri kalian.
Membaca sejarah kehidupan para sahabat, maka mereka semua adalah figur-figur yang memiliki selera kuat untuk bisa ber-khidmah kepada orang lain; teman dan masyarakat. Maka tidaklah mengherankan jika kemudian melalui mereka islam akhirnya tersebar ke seluruh dunia. Abu Bakar ra sebelum menjadi khalifah, memiliki kebiasaan memerah unta atau kambing satu penduduk kampung. Ketika diangkat menjadi khalifah maka seorang wanita mengatakan: “Dia tentu tidak akan sempat lagi memerah untuk kita” Mendengar hal ini Abu Bakar ra menegaskan: “Ia, aku akan tetap memerah untuk kalian. Sungguh aku berharap posisiku sekarang tidak merubah kebiasaan baik yang sebelumnya ku lakukan”.

Mengetahui ada Seorang wanita tua yang buta dan tinggal seorang diri di pinggiran Madinah. Umar ra berusaha untuk senatiasa mengangsu air dan memenuhi kebutuhannya. Akan tetapi setiap kali datang, ia selalu kedahuluan orang lain. Ia pun akhirnya menyelidik, dan akhirnya mengetahui bahwa orang yang selalu mendahuluinya adalah sang khalifah, Abu Bakar ra.

Mengetahui ada rombongan pedagang yang singgah dan hendak menginap di masjid Nabawi serta memarkir unta dan segala muatannya di halaman masjid, maka khalifah Umar ra pun menawarkan kepada Abdurrahman bin Auf ra yang seorang kaya raya: “Maukah engkau berjaga denganku pada malam hari ini?!” Abdurrahman mengiyakan dan akhirnya kedua sahabat mulia itu melewatkan malam dengan shalat dan berjaga demi mengamankan harta benda musafir yang bermalam di masjid.

Demikianlah dakwah masa lampau yang dilakukan lebih banyak dengan aksi nyata dan keteladanan daripada melalui kata-kata dan formalitas belaka sehingga dakwah meraih kemenangan dan kesuksesan luar biasa; terjadilah fenomena manusia berbondong-bondong memasuki agama Allah subhanahu wa ta’ala.

=والله يتولي الجميع برعايته=


Share on Google Plus

About tdmenha pujon

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar.. tapi mohon maaf untuk spam akan kami hapus langsung.