Mukholafah, Tindakan Memancing Fitnah

Mukholafah, Tindakan Memancing Fitnah


Allah azza wajalla berfirman :

... فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ

“…Maka orang – orang yang selalu menyimpang (Mukholafah) dari perintahnya hendaknya waspada dari fitnah yang akan menimpa mereka atau siksaan yang pedih yang juga akan mengenai mereka” (QS an Nuur: 63).

Analisa Bahasa

Mukholafah, Tindakan Memancing FitnahFitnah, kata ini bisa berarti bencana (Bala’) atau juga bisa berarti ujian (Imtihaan),Abu Bakar bin Thohir berkata: Fitnah identik dengan siksaan, sementara Bala’ erat kaitannya dengan pemberian cobaan dalam rangka pemberiaan maaf serta dalam Bala’ juga terdapat pahala.

Mukhoolafah, artinya menyimpang dari jalur yang ditentukan atau berbeda (Mughoyaroh) dengan jalan yang dilalui oleh orang lain.

Hadzar (Waspada), kata ini terdevinisikan sebagai sebuah usaha menjauh dari hal yang mengkhawatirkan atau menakutkan.

Perintah-Nya di sini oleh banyak ahli tafsir kembali kepada Rosululloh Saw. Sedang maksud perintah Beliau adalah jalan, metode dan jejak langkah, sunnah dan syariat Baliau Saw. Berangkat dari prinsip ini, setiap perkataan dan perbuatan harus diukur dengan perkataan dan perbuatan Beliau Saw, kemudian jika ada kecocokan maka perkataan itu bisa diterima, dan sebaliknya juga demikian, sabda Nabi Saw: “Barang siapa melakukan suatu perbuatan yang tidak termasuk urusanku maka perbuatannya itu ditolak” Muttafaq alaihi.

Sebab Turun

Ayat ini diturunkan sehubungan dengan sikap kaum Munafiq yang merasa berat untuk mendengar dan menghayati Khutbah Nabi Saw pada hari Jum’at, tanpa permisi kepada Nabi Saw mereka lalu keluar meninggalkan masjid secara sembunyi, oleh karena itulah Alloh segera mengancam mereka dengan ayat tersebut. Syekh Ahmad Mushthofa al Maroghi dalam tafsirnya menulis: Ayat tersebut secara umum juga berlaku bagi setiap orang yang melanggar perintah Alloh dan perintah Rosululloh Saw serta tetap memilih untuk Taqlid buta kepada sesuatu yang salah, padahal telah jelas bagi mereka petunjuk jalan yang benar dan juga telah terang bagi mereka sesuatu yang salah dan sesuatu yang benar.

Uraian Ayat

Alloh Swt begitu sayang dan cinta kepada hambaNya (manusia) sehingga Dia memberi penghargaan sangat tinggi kepada amal ibadah manusia yang sangat kecil, begitu pula Dia sangatlah mudah memaafkan kesalahan manusia betapa pun besar kesalahan tersebut, akan tetapi rasa sayang yang begitu hebat tidak membuatNya lantas membiarkan manusia begitu saja untuk melakukan semua hal yang mereka suka, sebab jika hal ini terjadi maka manusia justru akan berjalan menuju kehancuran, karena itulah Dia juga memberikan ancaman siksaan sebagai wujud sifat ketegasan, karena Dia Maha Perkasa (Qohir) mengalahkan semua hambaNya. Sifat Alloh yang pada satu sisi begitu lembut dan di sisi lain juga begitu tegas seharusnya menjadi perhatian kita sebagai seorang pendidik (orang tua atau guru), rasa sayang tidak lantas menjadi alasan bagi kita untuk berlaku permisif (serba membolehkan), atau sebaliknya bertindak protektif (serba mengatur), tetapi dalam kondisi tertentu kita harus tegas jika terjadi kesalahan atau penyimpangan:

وَقَسَا لِيَزْدَجِرُوْا وَمَنْ يَكُ حَازِمًا     فَلْيَقْـُس أَحْيَانًا عَلَي مَنْ يُحِبُّ

Dan dia bersikap tegas supaya mereka kapok, barang siapa yang kuat (Hazim) maka hendaknya dia bersikap tegas kepada orang yang dia cintai

Kembali kepada ketegasan Alloh, wujud ketegasanNya yang berupa ancaman bencana di dunia dan siksaan pedih di akhirat ditujukan hanya kepada orang–orang yang menyimpang dari aturanNya atau dengan kata lain kepada para pendosa yang begitu akrab dengan dosa–dosa, serta terus menerus melakukan dosa, “…katakanlah: Lalu kenapa Dia memberi siksaan kepada kalian? (sudah tentu) itu sebab dosa – dosa kalian” QS al Ma’idah: 20. Ayat ini sekali lagi memperingatkan manusia bahwa terjadinya bencana tidak lain adalah sebagai jawaban dari dosa – dosa yang terus menerus dilakukan. Terjadinya gempa bumi, gelombang Tsunami, banjir, gunung meletus, tanah longsor, kesewenang – wenangan para pemegang kebijakan dsb, para cendikawan dan ilmuwan boleh saja mengatakan bahwa bencana–bencana tersebut adalah akibat ini dan itu, tetapi sebagai seorang yang beriman harus meyakini bahwa bencana – bencana (fitnah) tersebut tiada lain merupakan dampak dari dosa – dosa atau penyimpangan (Mukholafah) dari jalan Alloh dan RosulNya yang selama ini terus berlangsung, jadi bisa diyakini bahwa Mukholafah adalah sebuah tindakan memancing Fitnah.

Secara umum dalam Alqur’an disebutkan bahwa memang terjadinya bencana adalah akibat dari dosa –dosa yang muncul laksana jamur di musim hujan, tetapi dalam satu kesempatan Alqur’an juga menyebutkan secara khusus bentuk dosa yang bisa memancing siksa dan bencana, seperti halnya dosa kufur nikmat, tidak menggunakan nikmat semsetinya; diberi sehat malah lupa beribadah, diberi harta melimpah malah menjadi sarana bermaksiat kepada Alloh, diberi kekuasaan malah menjadi alat melakukan kekejaman dan pengkhianatan serta aneka ragam kufur nikmat yang lain, Alloh berfirman: “…dan sungguh jika kalian kufur maka sungguh siksaanKu sangatlah pedih” (QS Ibrohim: 7). Dalam bahasa hadits Nabi Saw, terjadinya bencana dan siksaan tiada lain sebagai dampak dari kemaksiatan yang merajalela, Beliau Saw bersabda:

إِذَا ظَهَرَتِ الْمَعَاصِي فِيْ أُمَّتِيْ عَمَّهُمُ اللهُ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ

“Jika maksiat – maksiat telah tampak (mendominasi atau merajalela) di kalangan umatku maka Alloh akan meratakan siksa dari sisiNya kepada mereka” HR Ahmad

Kelanjutan dari Hadits ini adalah: Aku (Ummu Salamah) bertanya: "Wahai Rosululloh, bukankan di kalangan mereka pada saat itu ada manusia – manusia saleh?" Nabi Saw menjawab: "Ia". "Lalu bagaiman dengan mereka?", tanya Ummu Salamah. Nabi Saw menjawab: “Mereka juga tertimpa apa yang menimpa manusia, kemudian mereka akan dikembalikan kepada ampunan dan ridho Alloh”.

Daratan Sumatera dan sekitarnya telah tertimpa bencana demikian hebat, kenapa bencana ini terjadi di sana? Jawabannya tidak lain karena di sana dosa – dosa begitu merajalela. Pertanyaan kita sekarang, bukankah pada masa ini manusia di seluruh belahan bumi tidak terpisah secara budaya, meski secara geografis mereka terisolir?. Pertanyaan ini memang benar, saat ini budaya manusia seakan tidak pernah terpisah, mereka memang tinggal berjauhan, tetapi budaya mereka sama, di mana – mana di setiap tempat, sudut kota dan desa, di tengah sungai, lautan dan di atas gunung maupun di dalam hutan kemaksiatan mudah sekali ditemukan, jadi jika berbicara masalah hak, mereka semua berhak tertimpa bencana. Hanya ada dua jawaban kenapa sementara ini daerah selain sumatera tidak tertimpa bencana,

1) Adanya Imla’ / penundaan dari Alloh, “Dan janganlah orang – orang kafir menyangka bahwa sesungguhnya Kami menunda (siksaan) atas mereka itu lebih baik bagi mereka, sungguh Kami menunda adalah hanya karena supaya dosa mereka bertambah – tambah, dan bagi mereka siksaan yang hina” QS Ali Imron: 178. Nabi Saw bersabda:

إِنَّ اللهَ لَيُمْلِيْ لِلظَّالِمِ حَتَّي إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِـتْهُ
“Sesungguhnya Alloh niscaya menunda (siksaan) bagi orang yang zholim, sehingga ketika Dia menyiksanya maka Dia tidak akan pernah melepasnya” HR Bukhori


Baca Artikel Lainnya : "Menuju Akhlak Mulia"


2) Masih banyaknya di daerah tersebut sesuatu hal yang menjadikan Adzab atau siksaan serta bencana tidak diturunkan. Hal ini merupakan anugerah besar Alloh, di mana Dia juga mengabarkan kepada para hamba sesuatu yang bisa menolak atau menepis bencana. Sesuatu itu antara lain; a) Istighfar, “… dan Alloh tiada akan pernah menurunkan siksa kepada mereka selama mereka mau ber Istighfar” QS al Anfaal: 33, Nabi Saw bersabda: “Seorang hamba aman dari siksa Alloh selama mau beristighfar” HR Ahmad, b) Rosululloh Saw, keberadaan Nabi Saw juga menjadikan para sahabat serta orang – orang yang hidup dekat dengan Beliau Saw tidak akan pernah tertimpa bencana, “Dan Alloh tiada akan pernah menyiksa mereka sementara kamu (Muhammad Saw) ada di antara mereka…” QS al Anfaal: 33, Nabi Saw bersabda: “Alloh menurunkan dua keamanan kepadaku untuk umatku, “Dan Alloh tidak akan menyiksa mereka sementara kamu ada di antara mereka”, dan ketika aku meninggal maka aku tinggalkan untuk mereka Istighfar sampai pada hari kiamat” HR Turmudzi, c) Dzikir, fungsi dzikir sebagai penepis Adzab di tegaskan oleh sebuah hadits riwayat Muadz bin Jabal bahwa Nabi Saw bersabda:

مَاعَمِلَ ءَادَمِيٌّ عَمَلاً قَطُّ أَنْجَي لَهُ مِنْ عَذَابِ اللهِ تَعَالَي مِنْ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Anak tidak beramal apapun yang paling bisa menyelamatkannya dari siksa Alloh dari pada berdzikir kepada Alloh” HR Ahmad

Share on Google Plus

About tdmenha pujon

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar.. tapi mohon maaf untuk spam akan kami hapus langsung.