Meninggalkan Hal yang Tidak Berguna

Standar Kebaikan Islam adalah
Meninggalkan Hal yang Tidak Berguna


Dari Abu Hurairah ra. Nabi Muhammad Saw bersabda: 

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَايَعْنِيْهِ

“Termasuk di antara kebaikan Islam seseorang adalah ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya”

Penjelasan Hadits

Di samping Islam, hal penting yang perlu dipelajari oleh seorang muslim adalah memperbaiki kwalitas islam-nya. Dalam hadits ini dinyatakan oleh Rasulullah Saw bahwa kebaikan islam itu adalah meninggalkan hal yang tidak berguna. Imam Ibnu Hajar al Haitami mengumpamakan rukun islam yang lima adalah seperti tubuh sedangkan meninggalkan hal yang tidak berguna adalah seperti bentuk dan warna tubuh. Hal-hal yang tidak berguna bisa berupa:

  • Ucapan yang tidak berguna

Sebagaimana dalam sabda Rasulullah Saw:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ قِلَّةَ الْكَلَامِ فِيْمَا لَايَعْنِيْهِ

“Sesungguhnya termasuk kebaikan islam seseorang adalah sedikit bicara dalam hal yang tidak berguna baginya” 

Standar ucapan tidak berguna menurut Imam Ghazali adalah ucapan yang apabila tidak diucapkan maka sama sekali tidak menimbukan resiko apapun. Lalu apakah ucapan yang berguna dan yang tidak berguna? Salah satu kriterianya adalah seperti disebutkan oleh Allah azza wajalla dalam firmanNya:

لَا خَيْرَ فِى كَثِيْرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوْفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ...

“Tidak ada kebaikan sama sekali pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali (bisikan dari) orang-orang yang menyuruh (manusia) agar memberikan sedekah, atau berbuat ma’ruf atau mendamaikan di antara manusia...”

Amar bin Qaes al Mula’i menceritakan:

Nurul HaromainLuqman al Hakim  sedang duduk dikelilingi oleh banyak orang. Seseorang yang telah lama mengenalnya datang bertanya: “Bukankah dulu anda adalah hamba sahaya?” Luqman menjawab: “Ia” orang itu bertanya: “Bukankah dulu anda biasa menggembalakan domba di lereng gunung?” Luqman kembali menjawab: “Ia” orang itu bertanya lagi: “Lalu apakah kiranya yang menjadikan anda mencapai derajat tinggi seperti yang saya saksikan sekarang ini?”  Luqman menjawab: “Ucapan yang jujur dan senantiasa diam (tidak mengucapkan) hal yang tidak berguna bagiku”

Wahb bin Munabbih bercerita:

Dua orang bani Israel yang sangat ahli ibadah mendapatkan derajat sehingga bisa berjalan di atas air. Ketika mereka berdua berjalan di atas lautan tiba-tiba mereka bertemu dengan seorang lelaki yang melayang-layang di udara. Kedua orang itupun bertanya: “Wahai hamba Allah, dengan apakah engkau mencapai derajat ini?” Lelaki itu menjawab: “Dengan sedikit memiliki dunia, aku menyapih diriku dari keinginan-keinginan, aku menahan lidahku dari hal yang tidak berguna bagiku, aku menggemari sesuatu yang Dia serukan kepadaku, dan aku selalu diam. Oleh karena itulah jika aku bersumpah kepada Allah maka Dia melaksanakan sumpahku, jika aku memohon kepadaNya maka Dia mengabulkanku”. Saat akan meninggal dunia, wajah Wahb bin Munabbih kelihatan sumringah bahagia. Orang-orang bertanya mengapa demikian? Wahb menjawab:

مَا مِنْ عَمَلٍ أَوْثَقَ عِنْدِيْ مِنْ خَصْلَتَيْنِ كُنْتُ لَا أَتَكَلَّمُ فِيْمَا لَا يَعْنِيْنِيْ وَكَانَ قَلْبِيْ سَلِيْمًا لِلْمُسْلِمِيْنَ

“Tidak ada amal yang lebih membuatku optimis daripada dua hal; aku tidak berbicara sesuatu yang tidak berguna bagiku dan hatiku senantiasa selamat kepada kaum muslimin”. Setiap muslim harus dan perlu belajar untuk tidak mengucapkan sesuatu yang tidak perlu karena memiliki resiko:


1. Terjatuh dalam dosa. Abu Hurairah ra meriwayatkan sabda Rasulullah Saw:

أَكْثَرُ النَّاسِ ذُنُوْبًا أَكْثَرُهُمْ كَلَامًا فِيْمَا لَا يَعْنِيْهِ


“Manusia yang paling banyak dosanya adalah yang paling banya berbicara yang tidak berguna”

2.  Termasuk ucapan yang menjadikan Allah marah


إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللهُ بِهَا دَرَجَاتٍ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِيْ بِهَا فِى جَهَنَّمَ
“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar selalu mengucapkan ucapan yang termasuk bagian dari keridhaan Allah yang tanpa ia sangka sebab ucapan itu Allah mengangkat derajatnya di surga beberapa derajat.  Dan sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan ucapan yang termasuk bagian yang dibenci oleh Allah yang tanpa ia sadari sebab ucapan itu Allah menjatuhkan-nya ke dalam neraka”

3.  Terhalang dari diterimanya amal kebaikan

Disebutkan bahwa ada seseorang gugur sebagai syahid dalam perang uhud sehingga orang-orang termasuk sang ibu mengatakan: “Berbahagialah mendapatkan pahala surga!”  mendengar hal ini Rasulullah Saw bersabda:
مَا يُدْرِيْكِ أَنَّهُ شَهِيْدٌ ؟ لَعَلَّهُ كَانَ يَتَكَلَّمُ فِيْمَا لَا يَعْنِيْهِ أَوْ يَبْخَلُ فِيْمَا لَا يَنْقُصُهُ
“Apa yang membuat anda memastikan dia sebagai syahid? Sangat mungkin ia mengatakan sesuatu yang tidak berguna baginya atau ia pelit dalam harta yang tidak mengurangi (kekayaannya)”

3.  Menjadikan hati keras

Hati yang keras adalah hati yang tidak bisa merasakan lezat ibadah, hati yang tidak mudah menerima atau tidak mudah tersentuh oleh nasehat-nasehat sehingga dampaknya seseorang yang memiliki hati yang keras akan malas beribadah sehingga ia pun jauh dari Allah azza wajalla. Rasulullah Saw bersabda:
لَا تُكْثِرُوا الْكَلَامَ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللهِ فَإِنَّ كَثْرَةَ الْكَلَامِ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللهِ قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ وَإِنَّ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنَ اللهِ الْقَلْبُ الْقَاسِي
“Jangan memperbanyak omong selain berdzikir kepada Allah karena sesungguhnya banyak omong selain berdzikir kepada Allah menjadi hati keras dan sesungguhnya orang yang paling jauh dari Allah adalah orang yang berhati keras”

5.  Tubuh lemas dan terhalang rizki

Malik bin Dinar ra berkata:

إِذَا رَأَيْتَ قَسَاوَةً فِى قَلْبِكَ وَضُعْفًا فِى بَدَنِكَ وَحِرْمَانًا فِى رِزْقِكَ فَاعْلَمْ أَنَّكَ قَدْ تَكَلَّمْتَ فِيْمَا لَا يَعْنِيْكَ

“Jika kamu merasakan hatimu keras, tubuhmu lemas dan rizkimu terhalang maka mengertilah bahwa kamu telah berbicara yang tidak berguna bagimu”

Ma’ruf al Karkhi mengatakan:
كَلَامُ الْعَبْدِ فِيْمَا لَا يَعْنِيْهِ خِذْلَانٌ مِنَ اللهِ تَعَالى
“Ucapan seorang hamda dalam hal yang tidak berguna baginya adalah bentuk penghinaan dari Allah ta’ala”

Selain keuntungan terhindar dari lima resiko di atas, seseorang yang berhasil menjaga lidah sehingga tidak berbicara yang tidak berguna juga memiliki kesempatan mendapatkan keuntungan seperti dikatakan oleh Imam Syafi’i ra:
مَنْ أَرَادَ أَنْ يُنَوِّرَ اللهُ قَلْبَهُ فَلْيَتْرُكِ  الْكَلَامَ فِيْمَا لَا يَعْنِيْهِ
"Barang siapa berharap Allah mencerahkan hatinya maka hendaklah ia meninggalkan ucapan yang tidak berguna baginya".


  • b. Perbuatan yang tidak berguna

Selain ucapan, hal yang tidak berguna juga bisa berupa perbuatan atau aktivitas-aktivitas yang tidak berguna seperti berlebihan dalam bermain, berwisata, dan segala macam bentuk aktivitas atau kegiatan yang tidak bernilai atau tidak bermanfaat ditinjau dari berbagai aspek; agama, kesehatan dsb. Termasuk melakukan hal yang tidak berguna dan perlu diwaspadai agar bisa menghindari adalah mempelajari satu ilmu atau bidang keahlian yang tidak berguna atau bahkan membahayakan pemiliknya sebagaimana ilmu tentang komunisme, liberalism dan isme-isme lain yang tidak selaras dengan prinsip berilmu dalam agama islam yaitu ilmu yang menjadi pemiliknya semakin dekat dengan Allah azza wajalla berupa ilmu tentang Alqur’an, hadits, ilmu far’idh (hukum warisan), hal-hal yang wajib dimengerti karena terkait dengan kewajiban sebagai seorang muslim yang harus melaksanakan syariat shalat, zakat, puasa, haji dsb.

Baca Artikel Lainnya : "Semangat Mencari Ilmu"


Meninggalkan hal yang tidak berguna adalah salah satu di antara kebiasaan sahabat bernama Abdullah bin Salam ra.  Suatu ketika Rasulullah Saw bersabda: “Orang yang pertama datang kepada kalian (setelah ini) adalah seorang lelaki penduduk surga” ternyata yang datang pertama kali adalah Abdullah bin Salam ra. Orang-orang pun segera menyambutnya dan bertanya: “Beritahukanlah kepada kami amalan yang paling engkau andalkan!” Abdullah bin Salam ra menjawab:

إِنَّ عَمَلِيْ لَضَعِيْفٌ أَوْثَقُ مَا أَرْجُوْ بِهِ سَلَامَةُ الصَّدْرِ وَتَرْكِيْ مَا لَا يَعْنِيْنِيْ
“Sesungguhnya amalku lemah (sedikit), hal yang paling aku percaya untuk diharapkan adalah hati yang selamat dan meninggalkan segala sesuatu yang tidak berguna bagiku”

Hal yang mungkin bisa menjadi kontrol diri agar meninggalkan sesuatu yang tidak berguna adalah seperti dipesankan oleh Imam Hasan al Bashri:

مِنْ عَلَامَةِ إِعْرَاضِ اللهِ تَعَالى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَجْعَلَ شُغْلَهُ فِيْمَا لَا يَعْنِيْهِ

“Di antara tanda Allah azza wajalla berpaling dari seorang hamba adalah Dia menjadikannya sibuk dalam hal yang tidak berguna baginya”

Kebaikan Dilipat ganda dan Keburukan Diganti Kebaikan

Apabila seorang muslim berhasil memiliki kebiasaan meninggalkan hal yang tidak berguna baik berupa ucapan atau tindakan maka sungguh ia telah memperbaiki Islam nya dan layak mendapatkan fasilitas berupa

A.  Amal kebaikannya dilipatgandakan

Rasulullah Saw bersabda:

إِذَا أَحْسَنَ أَحَدُكُمْ إِسْلَامَهُ فَكُلُّ حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ بِعَشْرِ أَمْثَالـِهَا إِلَي سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ...

“Jika salah seorang kalian memperbaiki islamnya maka setiap kebaikan yang ia lakukan ditulis sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat…”

Imam Ibnu Rajab mengatakan :

Lipat ganda pahala menjadi sepuluh kali adalah suatu yang pasti. Adapun lipat ganda lebih dari itu maka karena berbagai sebab seperti memperbaiki islam, ketulusan niat dan kebutuhan kepada amalan tersebut seperti infak untuk jihad, haji, memerdekakan budak, menyantuni anak yatim dan orang miskin serta kondisi-kondisi apapun di mana infak sangat dibutuhkan. Allah azza wajalla berfirman:

مَنْ جَآءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالـِهَا...

“Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat…”

...وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيْمًا

“…dan jika ada kebaikan (meski sedikit) maka Allah memberikan dari sisiNya pahala yang besar”


B.  Keburukan diganti kebaikan

Allah azza wajalla berfirman:
إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالـِحًا فَأُولئِكَ يُبَدِّلُ اللهُ سَيِّئَاتـِهِمْ حَسَنَاتٍ...
“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh, maka keburukan mereka diganti Allah dengan kebajikan…”

Abu Dzarr ra meriwayatkan. Rasulullah Saw bersabda:

"Sungguh aku benar-benar mengetahui orang yang paling belakang masuk surga dan paling terakhir keluar dari neraka. Ada seseorang dipanggil lalu dikatakan (kepada malaikat): “Tampakkanlah kepadanya dosa-dosa kecilnya, dan singkirkan darinya dosa-dosa besarnya!” Allah azza wajalla menampakkan kepadanya dosa-dosa kecilnya dan dikatakan: “Apakah pada hari ini dan ini kamu melakukan ini dan ini?” dia mengiyakan tanpa bisa membantah disertai rasa takut akan ditampakkan dosa-dosa besarnya. Lalu dikatakan kepadanya:

فَإِنَّ لَكَ مَكَانَ كُلِّ سَيِّئَةٍ حَسَنَةً
“Bagimu satu kebaikan (sebagai ganti)  setiap satu keburukan” ia pun bertanya: “Ya Tuhanku, saya dulu pernah melakukan banyak hal (lain) yang tidak saya lihat di sini” Abu Dzarr ra berkata: “Sungguh aku melihat Rasulullah Saw tertawa lepas sehingga tampaklah gigi-gigi geraham beliau”


=وَاللهُ يَتَوَلَّي الـْجَمِيْعَ بِرِعَايَتِه=


Share on Google Plus

About tdmenha pujon

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar.. tapi mohon maaf untuk spam akan kami hapus langsung.