Hartamu Hanya Sedekahmu

Hartamu Hanya Sedekahmu

Nurul HaromainBerdasarkan data majalah Forbes November 2013, R. Budi Hartono & Michael Hartono menduduki posisi teratas. Kedua bersaudara ini berasal dari Djarum Group, perusahaan yang mereka warisi dari ayahnya. Menjelang akhir tahun 2013 lalu kekayaan mereka mencapai 15 miliar US Dollar atau setara dengan 165 triliun rupiah dengan kurs 11.000 rupiah. Sumber kekayaan utama kedua taipan tersebut berasal dari bidang perbankan, Bank BCA, dan dari perusahaan rokoknya, Djarum. Setelah mereka berdua juga disusul nama-nama konglomerat lain dari warga keturunan china seperti Eka Cipta Wijaya dengan Sinar Mas nya yang memiliki aset 77 triliun, Antoni Salim dengan Indofood nya yang memiliki aset 69, 3 triliun, Susilo Wonowidjojo dengan Gudang Garam nya yang memiliki aset  58,3 triliun, Peter Sondakh dengan Bentoel dan  Rajawali group nya (perusahaan kelapa sawit) yang memiliki aset  29,7 triliun, dan seterusnya.

Bagi seorang mukmin, sebanyak apapun kekayaan yang dimiliki oleh seorang manusia yang tidak beriman kepada Allah dan Rasulullah Mumammad Saw, tidak lebih hanyalah kesenangan yang sedikit dan sementara sebagaimana firman Allah:

...قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيْلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ

“... Allah berfirman: “Dan kepada orang kafirpun Aku memberikan sedikit kesenangan kepadanya, kemudian Aku akan memaksanya menjalani siksa neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”

Apabila kekayaan itu menjadi milik seorang yang beriman kepada Allah dan Rasulullah Muhammad Saw, maka seorang mukmin pun diajarkan agar tidak perlu kepingin (meri. Jawa) apalagi iri hati, karena rizki hanya di tangan Allah semata. Rizki adalah anugerah Allah yang menjadi hak mutlakNya untuk memberikannya kepada siapapun orang yang dikehendakiNya. “...itulah anugerah Allah yang Dia memberikannya kepada orang yang dikehendakiNya...” . Seorang mukmin baru diperbolehkan kepingin kepada seorang manusia beriman yang memiliki harta benda dan menggunakannya (menghabiskannya) untuk infak di jalan Allah, siang dan malam.

لَاحَسَدَ إِلَّا عَلَى اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْكِتَابَ وَقَامَ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَرَجُلٌ أَعْطَاهُ اللهُ مَالًا فَهُوَ يَتَصَدَّقُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ

“Tidak (boleh sama sekali) ada iri hati (maksudnya ghibthah atau meri,bukan hasud atau ngiri) kecuali dalam pada (orang); seorang yang diberikan Alqur’an oleh Allah lalu ia mengamalkannya (dengan membaca dan mempraktekkan) pada waktu malam (dan siang hari), dan seorang yang diberikan harta benda oleh Allah lalu ia menyedekahkannya siang dan malam”

Apalah artinya kesenangan yang diakhiri dengan kesusahan selama-lamanya. Inilah di antara alasan mengapa kita tidak perlu tertipu dan kepingin aset berlimpah milik orang kafir. Sementara tidak ada gunanya memiliki kekayaan yang berlimpah jika tidak digunakan untuk bersedekah sebanyak-banyaknya. Padahal  Rasulullah Saw telah banyak mengajarkan bahwa harta kita yang sesungguhnya bukanlah berupa tanah yang luas, rumah megah, kendaraan mewah atau jumlah deposito yang besar. Harta sesungguhnya yang benar-benar akan menjadi milik kita adalah nilai zakat dan sedekah kita. Semakin banyak kita berzakat dan bersedekah maka semakin banyak pula harta benda asli milik kita, bukan milik orang lain. Percuma saja sebenarnya mengklaim memiliki ini dan itu jika tidak mengamankannya dengan  cara menyedekahkannya. Rasulullah Saw bersabda yang artinya:

يَقُوْلُ الْعَبْدُ مَالِيْ مَالِيْ, إِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلَاثٌ: مَا أَكَلَ فَأَفْنَي أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَي أَوْ أَعْطَي فَاقْتَنَي. وَمَا سِوَي ذلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ

“Seorang hamba berkata: “Hartaku, hartaku, (padahal) sebenarnya ia cuma memiliki tiga bagian dari hartanya; pertama apa yang ia memakannya lalu menghabiskannya, kedua apa yang ia memakainya lalu membuatnya usang dan yang ketiga apa yang ia telah memberikannya lalu menyimpannya (untuk akhirat). Selain itu semua, maka ia akan pergi dan meninggalkannya untuk manusia (ahli warisnya)”

Rasulullah Saw juga bersabda: “Manakah di antara kalian yang lebih mencintai harta benda ahli warisnya daripada harta bendanya sendiri?”  Para sahabat menjawab: “Wahai Rasulullah, tiada seorangpun dari kami kecuali lebih mencintai harta bendanya sendiri”  Beliau Saw bersabda:

فَإِنَّ مَالَهُ مَا قَدَّمَ وَمَالُ وَارِثِهِ مَا أَخَّرَ

“Maka sesungguhnya harta bendanya adalah apa yang sudah  ia suguhkan (sedekahkan) dan harta benda ahli warisnya adalah apa yang telah ia tinggalkan”

Dalam riwayat lain, Rasulullah Saw bersabda: “ Ketahuilah bahwa tidak ada dari kalian kecuali (dalam kenyataannya) lebih mencintai harta benda pewarisnya daripada harta bendanya sendiri, karena

مَالُكَ مَا قَدَّمْتَ وَمَالُ وَارِثِكَ مَا أَخَّرْتَ

hartamu adalah apa yang kamu suguhkan (sedekahkan) dan harta benda pewarismu  adalah apa yang kamu tinggalkan”

Imam Ibnu Batthal mengomentari hadits ini:

"Di sini ada dorongan agar menyedekahkan harta benda yang mungkin bisa disedekahkan di jalan kebaikan agar kelak di akhirat bisa mengambil manfaatnya,  karena segala sesuatu  (harta benda) yang ditinggalkan oleh pemberi warisan (muwarrits) berubah status menjadi milik pewaris (ahli waris). Jika ahli waris menggunakannya untuk ketaatan maka ia mendapatkan pahalanya sendiri, (artinya pemberi warisan tidak mendapatkan jatah pahala), meski sebenarnya pemberi  warisan lah yang dulu bersusah payah mengumpulkan dan menahannya untuk tidak disedakahkan. Sebaliknya jika ahli waris menggunakan harta warisan sebagai sarana kemaksiatan, maka semakin jauhlah pemberi warisan dari mendapatkan manfaat harta benda yang dulu ia kumpulkan…" .

Baca Artikel Lainnya : "Saksi Kehancuran dan Bukti Kebenaran"

Oleh karena itulah ketika seorang beriman memiliki uang 100 ribu rupiah lalu menyedekahkannya 80 ribu rupiah maka semua uangnya masih ada selain  20 ribu rupiah. Inilah logika keimanan yang dibangun oleh Baginda Rasulullah saw untuk umatnya sehingga dalam sebuah kesempatan para sahabat atau keluarga Nabi Saw menyembelih seekor kambing (dan lalu menyedekahnya), maka beliau Saw bersabda: “Adakah yang masih tersisa?” mereka menjawab: “Tidak ada yang tersisa kecuali satu pundaknya (kaki bagian depannya” (mendengar hal ini) Rasulullah Saw  bersabda: “Seluruhnya masih tersisa kecuali pundaknya (satu kaki bagian depannya)”

Harta yang belum disedekahkan disebut hilang, dan yang telah disedekahkan dinyatakan sebagai yang masih tersisa, karena harta yang disedekahkan karena Allah pada hakikatnya disimpan di sisi Allah dan apa yang ada di sisi Allah senantiasa akan langgeng, berbeda harta yang masih dalam kuasa manusia. Sangat mungkin hanya sekedar dipakai berfoya-foya, dibelanjakan untuk hal tidak berguna dan bahkan mungkin  hilang sebelum diambil manfaatnya.  Allah azza wajalla berfirman:

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللهِ بَاقٍ

“Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal…”

= والله يتولي الجميع برعايته =

Share on Google Plus

About tdmenha pujon

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar.. tapi mohon maaf untuk spam akan kami hapus langsung.