Belajar Mencintai di antara Sesama Manusia Beriman

Belajar Mencintai di antara Sesama
Manusia Beriman


Dari Abu Hamzat Anas bin Malik ra, pembantu Rasulullah Saw. Ia berkata. Rasulullah Saw bersabda:

لَايُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتّي يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه

“Tidak beriman (dengan sempurna) salah seorang kalian sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri”

Penjelasan Hadits

Konsekwensi Iman adalah ujian sebagaimana ditegaskan oleh Allah azza wajalla dalam firmanNya:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja hanya karena) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi”

Nurul HaromainUjian-ujian adalah dalam rangka menuju kesempurnaan iman, setahap demi setahap, dan tidak bisa langsung seketika. Perlu waktu untuk meraih kesempurnaan dengan menjalani seluruh ujian-ujiannya. Hal ini karena ujian iman atau tuntutan iman begitu berat dan banyak sekali berlawanan dengan naluri asli manusia. Harus memaafkan sementara naluri manusia ingin membalas dendam. Harus dermawan sementara naluri manusia adalah mengumpulkan dan menyimpan harta benda.

Hadits ini mengajarkan harus mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri sementara manusia memiliki ego pribadi. Jika orang tua mencintai anak dan sebaliknya atau seorang suami mencintai isteri dan sebaliknya, maka kecintaan ini muncul sebagai suatu hal yang alami. Tetapi mencintai orang lain yang tidak memiliki pertalian nasab atau atas jasa apapun dan semata-mata karena didasarkan pada iman kepada Allah azza wajalla, maka di sinilah letak ujian dan perlu belajar serta usaha memproses diri agar bisa sukses mengerjakan.

Maksud mencintai saudara seiman seperti mencintai diri sendiri dijelaskan dalam sabda Rasulullah Saw:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِه لَايُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتّي يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه مِنَ الْخَيْرِ

“Tidak beriman (dengan sempurna) salah seorang kalian sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri dari kebaikan “

Artinya orang beriman harus belajar untuk:

    1.  Merasa senang apabila saudara seiman memperoleh nikmat, mendapatkan kesenangan serta bisa melaksanakan sebuah kebaikan. Rasa senang ini bisa dibuktikan dengan salah satunya memberikan ucapan selamat (tahni’ah) sebagaimana berikut ini:
  • Tahni’ah ketika pernikahan:
بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِى خَيْرٍ

“Semoga Allah memberikan berkah saat senangmu dan saat tidak senangmu,serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan”

عَلَى الـْخَيْرِ وَالْبَرَكَةِ وَالْأُلْفَةِ وَالطَّائِرِ الْمَيْمُوْنِ وَالسَّعَةِ فِى الرِّزْقِ بَارَكَ اللهُ لَكُمْ

“Semoga selalu dalam kebaikan, keberkahan, kerukunan,…, keluasan rizki, semoga Allah memberkahi kalian”

  • Tahni’ah ketika berangkat haji:
زَوَّدَكَ اللهُ التَّقْوَي وَوَجَّهَك َالـْخَيْرَ وَكَفَاكَ الْهَمَّ

“Semoga Allah membekalimu dengan taqwa, mengarahkanmu pada kebaikan dan mencukupi kesusahanmu”

  • Tahni’ah ketika datang haji:
قَبِلَ اللهُ حَجَّكَ وَغَفَرَ ذَنْبَكَ وَأَخْلَفَ نَفَقَتَكَ

“Semoga Allah menerima hajimu, mengampuni dosamu dan mengganti biayamu”


  • Tahni’ah ketika kelahiran bayi:
بُوْرِكَ لَكَ فِى الْمَوْهُوْبِ شَكَرْتَ الْوَاهِبَ بُلِّغْتَ رُشْدَهُ وَرُزِقْتَ بِرَّهُ

“Semoga diberikan keberkahan bagimu dalam anak yang dianugerahkan. Kamu bersyukur kepada Dzat Pemberi anugerah, semoga kamu berusia panjang sampai ia dewasa, dan kamu mendapatkan baktinya”

جَعَلَهُ اللهُ مُبَارَكًا عَلَيْكَ وَعَلى أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Semoga Allah menjadikannya sebagai berkah bagimu dan bagi umat Muhammad Saw”


  • Tahni’ah ketika melihat seseorang memakai baju baru:
الْبَسْ جَدِيْدًا وَعِشْ حَمِيْدًا وَمُتْ شَهِيْدًا

“Pakailah baju baru, hiduplah mulia dan matilah dalam keadaan syahid”

Bukan malah sebaliknya ketika mendapati ada saudara seiman meraih kebaikan, malah iri hati dan bersedih padahal semua kebaikan yang didapatkan adalah semata-mata dari Allah. Hanya Allah - lah yang mengatur dan mendatangkan kebaikan itu oleh karena Allah menegur dengan keras perasaan iri hati dengan firmanNya:

أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ ۖ

“Apakah mereka iri hati kepada manusia (Rasulullah Saw) atas apa yang telah Allah anugerahkan kepada mereka dari anugerahNya…”

    2.  Belajar bersikap atau memperlakukan orang lain dengan sikap dan perlakuan yang dirinya sendiri senang apabila orang lain bersikap dan berlaku serupa kepada dirinya Rasulullah Saw bersabda:

...فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيُدْخَلَ الـْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتي إِلَيْهِ...

“…barang siapa senang dihindarkan dari neraka dan dimasukkan surga maka hendaklah kematian menjemputnya dalam keadaan ia beriman kepada Allah dan hari akhir dan hendaklah ia memberikan (bersikap) kepada manusia sesuatu yang ia senang jika manusia memberikan itu kepadanya… “

Jika senang orang lain menghormati dan melayani kita maka kitapun harus belajar untuk menghormati dan melayani orang lain. Jika tidak suka ada orang lain menghina maka kitapun juga harus menghindarkan diri dari melakukan penghinaan kepada orang lain. Jika suka orang lain menjaga nama baik kita maka kita pun harus berusaha menjaga nama baiknya.

Baca Artikel Lainnya :"Berbaik Sangka Kepada Alloh"


Termasuk perilaku menjaga kehormatan orang lain yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw adalah:
"Tadi malam jin ifrit tiba-tiba datang untuk memutus shalatku. Allah pun memberiku kemampuan untuk bisa menangkapnya sehingga aku bermaksud untuk mengikatnya di salah satu tiang masjid sehingga pada pagi hari kalian seluruhnya bisa melihatnya. Lalu aku mengingat do’a saudaraku Sulaiman:

...رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَهَبْ لِيْ مُلْكًا لَا يَنْبَغِيْ لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِيْ...

“…Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan (kekuasaan) yang tidak akan dimiliki oleh seseorang jua pun sesudahku…”(QS Shaad:35)]. Perowi hadits ini yaitu Rauh, mengatakan: Rasulullah Saw pun membiarkan ifrit itu pergi dalam keadaan hina."

Ketika tidur aku melihat diriku berada di surga. Tiba-tiba ada seorang wanita sedang berwudhu di samping sebuah istana. Aku bertanya: “Milik siapakah istana ini?” mereka menjawab: “Ini milik Umar bin Khatthab” aku pun mengingat kecemburuan Umar sehingga segera pergi berpaling (dari istana itu)]

Abu Hurairah ra mengatakan; Ketika itu sambil menangis Umar ra berkata: “Wahai Rasulullah, apakah saya cemburu atas dirimu?!”

    3. Memiliki keinginan, tekad, semangat  dan merasa senang jika orang lain mendapatkan sesuatu  serupa dengan yang ia dapatkan, bahkan jika bisa maka harus melebihi dirinya. Jika sesuatu itu berupa harta benda maka seorang mukmin yang ingin menyempurnakan imannya harus memberikan kesempatan kepada orang lain untuk juga memperoleh harta benda seperti yang telah diperolehnya. Bahkan jika mungkin dalam jumlah yang lebih banyak. Ibnu Abbas ra berkata:

إِنِّيْ لَأَمُرُّ عَلَى الْآيَةِ مِنْ كِتَابِ اللهِ فَأَوَدُّ أَنَّ النَّاسَ كُلَّهُمْ يَعْلَمُوْنَ مِنْهَا مَا أَعْلَمُ

“Sungguh aku mendapati sebuah ayat dari Kitab Allah, maka aku sangat berharap manusia seluruhnya mengerti seperti yang kumengerti dari ayat itu”

Jika sesuatu itu adalah amal kebajikan, maka seorang mukmin harus belajar untuk mendorong atau mengajak saudara sesama mukmin agar juga melakukan kebajikan tersebut atau minimal terlibat ikut membantu sehingga sama-sama mendapatkan pahala Allah azza wajalla. Disebutkan bahwa Utbah al Ghulam ketika hendak berbuka puasa (dalam puasa sunnah) maka meminta kepada sebagian santrinya supaya menyiapkan makanan dan minuman untuknya berbuka puasa. Ia mengatakan: “Suguhkanlah kepadaku air dan beberapa butir kurma untuk aku berbuka puasa supaya kalian juga mendapat pahala seperti diriku”

Seorang mukmin yang hatinya memiliki keinginan agar saudara seiman meraih apa yang diraihnya bahkan jika mungkin dalam tingkat yang lebih tinggi, adalah seorang mukmin yang dipuji dan dijanjikan oleh Allah dengan firmanNya:

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa”

Imam Syafii ra berkata:

وَدِدْتُ أَنَّ النَّاسَ تَعَلَّمُوْا هذا الْعِلْمَ وَلـَمْ يُنْسَبْ إِلَيَّ مِنْهُ شَيْئٌ

“Aku sangat berharap semua orang mempelajari ilmu ini (ilmu dari beliau) dan sama sekali namaku tidak disebut di dalamnya”


=وَاللهُ يَتَوَلَّي الـْجَمِيْعَ بِرِعَايَتِه=



Share on Google Plus

About tdmenha pujon

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar.. tapi mohon maaf untuk spam akan kami hapus langsung.