Gerbang Kebaikan Sedekah

Gerbang Kebaikan Sedekah

Gebang kebaikan sedekahMuadz bin Jabal ra bertanya: “Wahai Rasulullah, beritakanlah kepadaku amalan yang memasukkan diriku ke dalam surga dan menjauhkan diriku dari neraka!” Rasulullah Saw bersabda: “Sungguh kamu benar-benar mempertanyakan sesuatu yang sangat besar. Dan sesungguhnya ia mudah bagi seseorang yang telah dimudahkan Allah; kamu menyembah Allah tanpa sedikitpun menyekutukann-Nya dengan apapun, kamu mendirikan shalat, kamu memberikan zakat, kamu berpuasa  ramadhan dan kamu berhaji ke baitullah”. Kemudian beliau Saw bersabda kepada Muadz: 

أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ

“Maukah aku menunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan?” Selanjutnya Beliau menyebutkan dua hal; “Puasa adalah benteng, dan sedekah bisa memadamkan kesalahan seperti air memadamkan api” 

Hadits ini menyebutkan dan menyatakan bahwa di antara pintu-pintu kebaikan itu adalah puasa dan sedekah. Artinya ketika seseorang telah berpuasa maka ia pasti dimudahkan bisa menjalankan kebaikan yang lain. Begitu pula halnya seseorang yang telah bersedekah, jika ia ikhlas karena Allah maka hatinya pasti digerakkan oleh Allah untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang lain. Kebaikan-kebaikan yang barangkali tidak mungkin bisa dilakukan oleh orang yang tidak bersedekah. Semakin banyak bersedekah maka Insya Allah pertolongan Allah senantiasa meliputinya sehingga akan banyak sekali waktu dan kesempatan yang ia manfaatkan untuk menjalankan ketaatan kepada Allah maupun berbuat baik kepada sesama makhluk Allah. Inilah di antara makna dari ungkapan hadits bahwa dengan sedekah seorang muslim mendapatkan anugerah tambahan umur dari Allah sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah Saw:

إِنَّ صَدَقَةَ الْمُسْلِمِ تَزِيْدُ فِى الْعُمْرِ... 

“Sesungguhnya sedekah seorang muslim itu menambah umur(nya)…” 

Pada suatu malam, penulis sendiri, bisa bangun tepat jam 02:15. Ini tidak biasa karena biasanya baru bangun pukul 03:00 atau bahkan lebih, dan bahkan terkadang sampai adzan subuh berkumandang. Usai terbangun langsung menuju lokasi di mana pompa air berada untuk menekan tombol. Tidak lama kemudian suara gemericik air mengisi bak di kamar mandi, terdengar saling bersahutan dari berbagai arah di lingkungan pesantren. Terlintas dalam hati: “Jika diterima oleh Allah maka hanya dengan sedikit gerak jari, entah sudah berapa pahala yang diraih. Dari gerakan jari itulah mengalir air yang akan digunakan para santri untuk membersihkan diri, bersuci, wudhu dan mandi. Lalu shalat dan seterusnya. Kalau demikian halnya mengapa seringkali teman-teman yang mendapatkan jatah khidmah menyalakan pompa air sering teledor? Sungguh sangat disayangkan kesempatan terbuang begitu saja”  

Setelah membersihkan diri dan bersuci, penulis lalu melakukan shalat malam sebelas rakaat. Disambung dengan membaca wirid hingga menjelang subuh. Selanjutnya membaca kitab suci Alqur’an sampai adzan subuh dikumandangkan. Setelah itu menjawab adzan dan shalat fajar dua rakaat sekaligus bacaan wirid khusus sampai jamaah subuh di mushalla dilaksanakan.  Usai shalat subuh, tetap berada di mushalla guna bersama para santri membaca wirid sampai matahari terbit. Lalu dilanjutkan dengan shalat Isyraq 4 rakaat. 

Aktivitas berikutnya adalah mengikuti kajian hadits kepada Abi KH Ihya’ Ulumiddin sampai tuntas jam 08 pagi. Dan yang lebih menyenangkan serta dirasakan oleh penulis sebagai sebuah nikmat besar yang harus diceritakan di sini adalah bahwa hari itu banyak kebaikan yang bisa dilakukan, tidak seperti hari-hari sebelumnya. 

Baca Artikel Lainnya : "Belajar kepada Nabi Adam as"

Dalam hati penulis bertanya mengapa hari ini sangat berbeda? Rasanya hari ini berbuat baik begitu mudah, ringan dan menyenangkan hati. Akhirnya penulis baru mengingat bahwa kemarin sore saat berada di sebuah mini market tergerak hati untuk membeli beberapa potong roti dan lalu menghadiahkannya kepada seseorang (orang lain di luar rumah) yang sangat spesial dalam kehidupan ini. Penulis yakin  berkah dari hadiah (sedekah) itulah yang menjadi sebab hari ini bisa banyak mendapatkan limpahan taufiq Allah. Kiranya hadits riwayat dari Muadz bin Jabal ra di atas sudah sangat mencukupi untuk dijadikan landasan kesaksian ini. Semoga Allah memberikan karunia ketulusan hati hanya karenaNya. 

Di antara nash yang juga secara jelas memberikan ajaran bahwa memberi atau bersedekah merupakan cara yang harus dilakukan agar kita bisa mengisi waktu dan usia kita dengan banyak kebaikan adalah firman Allah: 

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَي وَاتَّقَي. وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَي . فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَي

“Dan adapun orang yang memberikan (hartanya) dan bertaqwa (menjauhi larangan Allah). Dan membenarkan adanya surga. Maka Kami akan memberinya kemudahan untuk kebaikan (surga)”  

Marilah kita menelaah runtutan redaksi ayat ini: Dimulai dengan Allah menyebutkan seseorang yang mau memberikan harta kepada orang lain (Man A’thaa). Ini sebuah modal besar. Meski yang dimaksudkan adalah Sayyidina Abu Bakar ra, tetapi prinsip yang diikuti adalah keumuman ayat dan bukan sebab khusus yang melatarbelakanginya. Redaksi selanjutnya adalah tiga poin yang merupakan penjelasan manfaat memberikan harta benda:

Pertama: 
Redaksi Wattaqa yang bermakna bertaqwa yang secara bahasa bermakna menjaga diri. Maksudnya menjaga diri dari perbuatan keji (maksiat). Artinya orang yang bersedekah akan diberikan kekuatan hati oleh Allah untuk bisa menjauhi hal-hal yang dilarang olehNya serta berfokus diri mengerjakan segala perintahNya yang mungkin bisa dilakukan.

Kedua:
Redaksi Wa shaddaqa bil husna yang artinya membenarkan surga atau kalimat tauhid laa ilaaha illallah. Maknanya sedekah menjadi bukti keseriusan dan kekuatan iman seseorang kepada tauhid yang dipegangnya dan surga yang diharapkannya. 

Ketiga:
Redaksi Fasanuyassiruhu lil yusraa, artinya “Maka Kami akan memberinya kemudahan untuk kebaikan (surga)”. Maknanya ada jaminan dari Allah bahwa akan selalu memberikan hadiah kepada orang yang bersedekah berupa bisa menjalankan amalan yang membawanya masuk surga atau seperti yang ditulis oleh Imam al Qurthubi dalam tafsirnya:

اي نُرْشِدُهُ لِأَسْبَابِ الْخَيْرِ وَالصَّلَاحِ حَتَّي يَسْهُلَ عَلَيْهِ فِعْلُهَا

Maksudnya Kami senantiasa membimbingnya pada sebab-sebab kebaikan dan keshalehan sehingga mudah baginya melakukan kebaikan dan keshalehan tersebut.

Ketiga manfaat memberi (bersedekah) ini semakin nyata ketika pada lanjutan ayat Allah azza wajalla memberikan ancaman kepada orang yang bakhil  yang tidak mau memberikan harta kepada orang lain atau demi membiayai kepentingan perjuangan di jalan Allah:

فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَي

“Maka Kami akan memudahkannya berbuat buruk”  

Al Usraa di sini maksudnya adalah keburukan, neraka atau Allah akan mempersulit orang yang pelit untuk bisa berbuat baik. 

Wallahu A’lam.


= والله يتولي الجميع برعايته =


Share on Google Plus

About tdmenha pujon

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar.. tapi mohon maaf untuk spam akan kami hapus langsung.