Kuliah atau Menikah

Kuliah atau Menikah


“Aku tidak peduli jika aku lulus kuliah umurku sudah 55 tahun, aku tidak akan menikah hingga studiku selesai.”

Pernyataan di atas berasal dari muslimah yang masih belia untuk mengejar apa yang dia sebut dengan “Pendidikan.” Sayangnya, keinginannya yang begitu kuat untuk mengejar pendidikan sarjana dan pasca sarjana merefleksikan trend yang sedang menjangkiti kaum muda Islam di masyarakat, untuk menunda pernikahan sampai mereka bergelar “Sarjana.” Dan parahnya lagi hal itu didukung penuh oleh para orang tua.

Bagaimanapun juga, sistem pendidikan Barat telah menjadi prioritas utama dalam kehidupan kaum muslimin. Mendapatkan gelar sarjana sepertinya sudah menjadi keharusan dalam keluarga Muslim sehingga jika ada anak perempuan mereka yang memutuskan untuk menikah di usia muda, dengan serta merta para orang tua akan melarangnya hanya dengan alasan si anak tadi haruslah menyelesaikan studinya. Sehingga, pada akhirnya menikah mempunyai arti yang jelek di kalangan keluarga muslim jika menikah itu sendiri dihubungkan dengan anak perempuan yang putus sekolah atau tidak kuliah, maka pilihan terakhir bagi mereka adalah menikah, dan hal itu tidak bisa diganggu gugat lagi.

Pemikiran semacam ini mendorong terjadinya perpecahan di kalangan umat muslim, sehingga mampu menghalangi tegaknya Islam di masyarakat kita serta di kehidupan sehari-hari. Setiap masyarakat mempunyai pondasi dan pondasi itu adalah keluarga. Jika kita sebagai umat Muslim menghargai sistem pendidikan Barat lebih daripada kita menghargai penegakan Islam bagi umat, lalu bagaimana dengan masa depan umat Islam? Terlebih lagi, bagaimana dengan pengakuan bahwa diri kita adalah Muslim sejati? Ketika dihadapkan pada pilihan untuk kuliah atau menikah yang merupakan penggenapan setengah dien tampaknya pilihan yang kedua terasa lebih berat untuk dijalani ketimbang yang pertama. Jadi, jikalau dikalangan umat Islam kita melihat bahwa manfaat atau pentingnya kuliah lebih besar daripada menikah, maka pastilah ada sesuatu yang salah di tubuh umat Islam.

Kuliah atau Menikah
Meskipun antara masalah pendidikan dan menikah sepertinya begitu kompleks, namun penjelasan untuk fenomena ini sangatlah mudah. Kita lebih memilih kehidupan dunia daripada akhirat. Kapanpun kita menjalankan perintah dari Alloh atau Rasululloh SAW. (misal: menikah) kita akan menjalankan perintah tersebut sedemikian rupa sehingga tidak menjadi penghalang bagi kita untuk meraih gemerlapnya kehidupan dunia. Kebanyakan dari kita, jika dianggap bahwa perintah Alloh begitu menghambat kehidupan dunia, maka kita akan mengacuhkan perintah itu sama sekali, seperti contohnya: “Kutipan kalimat di atas. Banyak dari kita yang jika dihadapkan pada dunia atau akhirat jawabnya mudah, akhiratlah tujuan utama. Karena itu kita harus membuat prioritas antara kuliah dan menikah.”

Fenomena lainnya yang lazim terjadi di tengah-tengah umat adalah semakin melemahnya pondasi kehidupan umat Islam (keluarga) dan dasar dari penundaan pernikahan adalah umat muslim yang terus tumbuh dan dihubungkan dengan angka-angka berurutan yang melekat pada diri setiap orang yang kebetulan lahir pada hari tertentu di tahun tertentu, yang umumnya disebut “Usia.”

Bagaimanapun juga kita harus mendalami lagi definisi Barat tentang “Masa kanak-kanak” atau “Masa remaja” sehingga kita seringkali merujuk pada anak-anak remaja kita yang ternyata sudah memasuki usia pernikahan tapi kita mengkategorikan mereka sebagai “Masih” anak-anak atau “Terlalu muda” untuk menikah. Kedua label tersebut merupakan fenomena yang tidak hanya baru bagi Islam tapi merupakan fenomena temuan di era modern ini secara umum.

Bagaimana Usama bin Zaid ra. di usia belia, sudah berani memimpin pasukan dan bagaimana dengan mujahid-mujahid muda Islam? Sebagaimana ketika kita mengikuti kebanyakan masyarakat dunia menuju “Lubang kadal” pendidikan, berarti kita juga telah mengikuti ”Lubang kadal” obsesi guru-guru modern (yang ternyata telah menggantikan posisi Rasululloh SAW. sebagai contoh tauladan kehidupan) dengan mengorbankan usia kita. Sebagaimana juga meraih sarjana merupakan satu-satunya prestasi kaum muda Muslim dan keluarga, begitu juga dengan usia yang telah menjadi faktor penentu yang signifikan apakah seseorang itu “Siap” untuk menikah atau tidak.

Pertanyaannya adalah apa yang harus kita lakukan untuk mengatasinya?

Kita harus  menegaskan kembali identitas keIslaman kita dan mengevaluasi lagi tujuan hidup kita di dunia ini. Apabila kita jujur melakukannya, kita akan merasa bahwa tujuan kita sangatlah jelas, menegakkan Islam dalam kehidupan sehari-hari dan selanjutnya penegakan Islam di dunia.

Segala sesuatunya, termasuk kuliah dan gelar sarjana, masuk kategori “Perhiasan dunia”  yang berarti “Tidak begitu perlu.” Jadi, ketika seorang muslim dihadapkan pada pernikahan yang merupakan kategori “Penegakan Islam” haruslah dihadapi dengan tanpa keraguan, dan segala hasrat untuk “Perhiasan dunia” haruslah dikejar sejauh masih dalam bingkai-bingkai Islam. Hasilnya, mungkin saja ada “Mahasiswa yang menikah” atau bahkan “Siswa yang menikah.”

Baca Artikel Lainnya : Kenikmatan Hati dan Nafs

Sangat banyak manfaat yang didapat dari menikah dan akan semakin banyak bila semakin cepat kita menikah dibandingkan menundanya. Menjaga kesucian di kalangan muda muslim dan mendorong lahirnya banyak anak demi pertumbuhan umat (bukan untuk menyebutkan fakta bahwa pernikahan menimbulkan skenario ideal bagi laki-laki dan perempuan untuk meningkatkan kesempatan mereka masuk surga dan menggenapkan setengah dien) adalah manfaat besar yang harus dipikirkan kembali oleh para orang tua dan kaum muda Muslim. Mari kita tegaskan kembali identitas keIslaman kita dan mulailah dari rumah kita dan mendorong banyak kaum laki-laki dan perempuan muda Islam untuk segera menikah. Mari kita kaji kembali kata “Pendidikan” dan “Masa dewasa” berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Dan semoga Alloh merahmati kita dalam usaha taqwa kepada-Nya selagi kita masih hidup di dunia dan penegakan Islam dalam setiap aspek kehidupan kita tanpa ragu sedikitpun dan semoga kita meraih tujuan kita: “SURGA.” Amiin.
Share on Google Plus

About tdmenha pujon

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar.. tapi mohon maaf untuk spam akan kami hapus langsung.