Dahaga yang Tak Kunjung Sirna

Dahaga yang Tak Kunjung Sirna


Harian portal detik.com memberitakan seorang anak perempuan tega membunuh orang tuanya hanya karena ingin diberi warisan. Tidak hanya itu, seorang adik di Pademangan Barat Jakarta tega menghabisi nyawa kakak kandungnya juga karena warisan.

Hubungan orang tua dan anak, atau persaudaraan dapat berakhir pilu, bila iman tidak ada dihati, yang mengendalikan. Bapak dan anak dahulunya berpelukan erat, kakak dan adik bahu membahu, bersama mengangkat tangan seraya memuji Alloh Ta’ala, begitu berbicara harta warisan, hubungan lagi tidak mesra, banyak dipenuhi amarah bahkan dapat berakhir tragis. 

Ada juga kita mendengar berita, seorang eksekutif di lingkungan BUMN yang memiliki total gaji ratusan juta rupiah tega melakukan korupsi. Padahal kalau ditilik dari gaji yang diterima hal itu tidak perlu terjadi.

Wahai saudaraku.
Sepertinya, manusia memang tak pernah merasa cukup, kecuali orang-orang yang mendapat hidayah. Padahal, berbeda dengan ilmu dan iman, bertambahnya harta tidak membuat jiwa semakin tentram. Pada saat sangat kekurangan, setiap tetes rezeki yang kita raih akan membangkitkan kebahagiaan, meluapkan rasa syukur, serta melahirkan harapan. Kelelahan jiwa yang nyaris mendekati kata putus asa karena hidup yang tak kunjung berubah, seketika sirna ketika Allah Ta’ala karuniakan rezeki-Nya kepada kita. Tetapi, ketika harta bertambah, sudah melewati batas kecukupan sehingga kebutuhan hidup seluruhnya terpenuhi, maka diri kita mulai berubah. Kalau tak hati-hati, rasa syukur bisa  berubah menjadi takabbur. Padahal, kesuksesan itu sabar bekalnya, ikhlas penjaganya dan takabbur perusaknya yang paling ganas dan cepat.

Wahai saudaraku.
Kalau bukan iman yang mengendalikan, hidup kita akan berakhir sia-sia. Kita sibuk mengejar harta, menumpuk-numpuknya, seraya tak berhenti berhitung, padahal umur sudah hampir masuk kubur. Kalau bukan karena iman yang membimbing, hidup kita akan habis tanpa guna. Usia sudah amat tua, bahkan terlalu tua untuk disebut senja, tetapi atas kematian yang dapat datang sewaktu-waktu, kita tak mengambil pelajaran. Kita masih sibuk memburu dunia, di saat dunia secara pasti bergerak meninggalkan kita. Padahal, kita meninggal dunia tanpa membawa satu pun dari harta yang kita punyai.

Dahaga yang Tak Kunjung Sirna"Sesungguhnya ilmu itu menjaga kita, sedangkan harta kita menjaganya. Bertambahnya ilmu akan menenteramkan jiwa kita dan memperbagus akhlak, sedangkan bertambahnya harta disaat kita sedang bekelimpahan hanya akan menggelisahkan jiwa jika tak diiringi dengan bertambahnya kemurahan hati untuk memberi."

Wahai saudaraku.
Benarlah kata Nabi shallallahu ‘alahi wasallam, “Dunia yang sedikit saja bisa membuat lalai terhadap akhirat.” Lalu bagaimana dengan harta yang banyak. Ibarat kita memiliki istri dua. Istri yang satu sudah tua dan suka berkhianat  sementara yang lain masih muda, cantik dan setia. Jika kita lebih memilih istri yang tua, jelek dan suka berkhianat itu daripada istri yang muda, cantik dan setia berarti kita sangat bodoh. Yang tua itu adalah dunia dan yang muda adalah akhirat.

Masih kata Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bahwa kaya yang sesungguhnya bukanlah kaya harta, melainkan kaya hati. Betapa banyak orang-orang yang sudah berlimpah hartanya , tetapi amat tega hatinya untuk menganiaya orang-orang yang menderita hidupnya karena tak berpunya. Mereka sudah lebih dari cukup penghidupannya, tetapi hak orang miskin yang seharusnya mereka tolong, diambil juga.

Wahai saudaraku.
Kita pergunakan dunia sebagai sarana untuk sampai ke akhirat. Manusia di dunia ini seperti seorang hamba yang disuruh majikannya untuk pergi ke daerah tertentu, “Pergilah engkau ke negeri ini. Rancanglah segala sesuatunya untuk pergi dari negeri tersebut ke negeri lain. Serta jangan lupa untuk membawa bekal.” Tentu saja ketika sang majikan memberi perintah untuk melakukan hal ini, ia membolehkan hambanya untuk memakan apa yang ia butuhkan guna mendukung tubuhnya mencari bekal. Demikian pula keadaan seorang hamba bersama Alloh. Alloh menciptakannya di dunia ini dan memerintahkannya untuk berbekal menuju alam akhirat. Alloh berfirman yang artinya: "Berbekallah. Sesungguhnya bekal yang terbaik adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang berakal." (QS. al-Baqarah: 196). Jadi, ketika Alloh memerintahkan manusia berbekal untuk akhirat, Dia membolehkannya mengambil dari dunia sebatas keperluan.

Baca Artikel Lainnya : Ketenangan itu Ada Disana

Ah, benarlah kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Orang yang risau terhadap akhirat akan Alloh beri kekayaan di dalam kalbunya, akan Alloh kumpulkan kemuliaan pada dirinya, serta dunia akan mendatanginya tanpa disangka-sangka. Sementara orang yang risau terhadap dunia, Alloh akan berikan kemiskinan dalam pandangannya, Alloh hancurkan kemuliaannya, dan dunia akan mendatangi sesuai dengan ukuran yang telah ditetapkan. Di waktu petang ia merasa fakir, di waktu pagi juga demikian. Tidaklah seorang hamba mendatangi Alloh disertai kalbunya kecuali Dia akan membuat kalbu suatu kaum mukmin mengasihi dan menyayanginya. Selain itu, Alloh sangat cepat dalam memberikan kebaikan untuknya.” (HR. Tirmidzi).

Bagi orang yang lupa itu, syahwat terhadap harta adalah dahaga yang tak kunjung sirna.

Wallahu a’alam bishoshawab.


By: Ayyub Syafii
Share on Google Plus

About tdmenha pujon

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar.. tapi mohon maaf untuk spam akan kami hapus langsung.