KHAZANAH KEISLAMAN YANG PERLU DIPERBAIKI

KHAZANAH KEISLAMAN YANG PERLU DIPERBAIKI
كتاب فضائل أصحاب النبي
باب قول النبي صل الله عليه وسلم لو كنت متخذا خليلا
Ada kisah-kisah israiliyah yang bisa dipertanggungjawabkan. Sebagaimana yang diimani dan dibenarkan oleh Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar ketika ada binatang yang bisa berbicara. Dan saat itu pula para sahabat yang lain mengimaninya apa yang telah dibawa oleh Rasulullah. Barometer keimanan seseorang adalah beriman kepada yang ghaib.
Ada pula kisah-kisah israiliyah yang belum bisa dipercaya kebenarannya. Bisa jadi kepalsuan cerita itu karena adanya penyimpangan yang dilakukan oleh Bani Ismail. Hingga ketika Rasulullah diutus beliau memberikan pencerahan setelah sekian lama terjadi keadaan kevakuman syariat Allah.
KHAZANAH KEISLAMAN YANG PERLU DIPERBAIKI
www.erfan.ir

Khazanah Keislaman Yang Perlu Diperbaiki
Ada hal yang perlu diperbaiki dalam khazanah keilmuan keislaman, yaitu adanya kitab-kitab maudhu'at yang berisi hadits-hadits palsu, itu pun lahir dari penukilan sumber yang tidak valid. Kita bisa menjumpai hal itu pada kitab Durratu an-Nashihiin. Begitu banyak hadits yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya pada kitab tersebut.
Di sinilah pentingnya mempelajari ilmu hadits. Kita akan mudah menelaah studi kasus dalam hadits. Hal ini begitu sangat penting bagi para santri untuk mendalaminya. Hal ini cukup beralasan karena kitab-kitab maudhuu'at pun banyak menjadi rujukan sumber hukum di pondok-pondok pesantren.
Stabilitas Keamanan Yang Tidak Kondusif
Stabilitas keamanan sangat terganggu pada kekhalifahan Sayyidina Abu Bakar. Semisal kemurtadan yang terjadi dan enggan masyarakat menunaikan zakat, dan pengairan yang tidak stabil. Kemudian Rasulullah melalui mimpi memberikan isyarat agar khalifah Sayyidina Abu Bakar bisa mengambil air di sumur tersebut.
Maka disinyalir dari yang diberitakan oleh Sahabat Anas, bahwa beliau mengatakan, tidak ada yang aku khawatirkan dalam umat ini kecuali keengganan mereka meratakan shaf di dalam sholat. Itulah yang menyebabkan terjadinya perpecahan di tengah umat. Hati mereka berselisih.
Pena Barokah Santri
Tartib wa Talkhis Abu Bariza
Wallahu Ta'ala A'lam Bisshowa


Share on Google Plus

About Heri Mas

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 komentar:

  1. Tidak ada hukum yang paling sempurna dan paling lanyak ditegakkan di muka bumi ini melainkan hukum yang telah ditetapkan Allah Ta’ala, di dalamnya terdapat keadilan yang dicari-cari oleh umat manusia.
    Akan tetapi ada diantara mereka yang tidak menghendaki keadilan tersebut sehingga berusaha mencari hukum selain hukum Allah demi memuaskan hawa nafsu pribadi ataupun golongannya.

    Allah berfirman, “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum Allah)? (QS. al-Maidah: 50).
    Pertanyaan ini merupakan istifham inkari (pertanyaan untuk mengingkari) yang tidak membutuhkan jawaban, karena sudah pasti hukum Allah yang lebih baik dari pada hukum yang disepakati oleh akal manusia.

    Telah Datang Zamannya
    Kewajiban berhukum dengan hukum Allah merupakan kesepakatan para ulama berdasarkan Al-Qur’an, as-Sunnah dan ijma’ (konsensus ulama) tidak ada yang menyelisihi kesepakatan ini. Namun, semakin berkembangnya zaman perkara ini kian dilupakan umat, terutama oleh para penguasa negeri-negeri kaum muslimin, mereka lebih senang berhukum dengan undang-undang buatan manusia dan berusaha menyingkirkan undang-undang-Nya dari ingatan kaum muslimin.

    Apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah telah menjadi sebuah kenyataan, yaitu tali Islam yang pertama kali terlepas adalah masalah hukum. Sebagaimana dalam sebuah hadits,

    عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَتُنْتَقَضُ عُرَى الإِسْلاَمِ عُرْوَةٌ عُرْوَةٌ فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَتْ بِالَّتِي تَلِيهَا وَأَوَّلُ نَقْضِهَا الْحُكْمُ وَآخِرُهَا الصَّلاَةُ

    Dari Abu Umamah al-Bahili, bahwa Rasulullah bersabda, “Tali-tali ikatan Islam pasti akan terlepas satu persatu, ketika satu tali ikatan lepas, maka akan disusul ikatan yang lainnya, dan yang pertama kali terlepas adalah masalah hukum sedangkan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Hakim no. 7022).

    Akan tetapi, bukan berarti umat Islam harus pasrah dan beranggapan bahwa sudah menjadi sebuah ketetapan bahwa manusia akan melupakan undang-undang Allah, sehingga tidak perlu ada usaha dan upaya menegakkan dan memperjuangkannya kembali. Pernyataan seperti ini tiada keluar melainkan dari lisan orang-orang yang gagal faham persoalan takdir.

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan komentar.. tapi mohon maaf untuk spam akan kami hapus langsung.