Ujian dan Cobaan Parameter Kelulusan Para Da’i


Oleh: Abi Ihya’ Ulumiddin

Al-Mu’tashim Edisi 90 Th. VIII April 2004

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

(At-Taubah: 16)

Analisis Ayat:

Walijah ( وليجة )  menurut bahasa adalah sahabat karib. Atau sesuatu yang masuk dalam suatu perkara atau kaum, tetapi sesuatu itu bukan termasuk dari perkara itu atau kaum itu. Seperti sesuatu yang disisipkan, atau diselipkan. Adapun yang dimaksud “walijah” ayat di atas adalah pembantu yang jahat dari kalangan orang-orang munafik dan orang-orang musyrik. Orang-orang munafik dikatakan “walijah” karena seolah-olah dia beriman, tetapi pada hakikatnya cenderung kepada kekufuran. Mereka seolah-olah bagian dari kaum muslimin, tetapi sebenarnya memusuhi umat Islam. Mereka berbicara dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi mereka sendiri tidak mengimaninya.

Ayat ini untuk mendorong dan memotivasi umat Islam melakukan jihad kepada orang-orang musyrik sebagai parameter lulus atau tidaknya keimanan umat Islam dan membersihkan manusia (kaum muslimin) dari sifat nifaq dan syirik. Artinya, seseorang yang telah menyatakan dirinya beriman kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan RosulNya, belum dikatakan benar-benar beriman kecuali setelah melalui fit and propertest (uji kelayakan) melalui metode jihad serta tidak loyal kepada orang-orang munafik dan musyrik. Dengan begitu dapat diketahui siapa yang benar-benar beriman dan orang-orang yang dusta dalam keimanannya. Ayat ini diperkuat oleh surat Ali Imron ayat 142 yang berbunyi,

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. (Ali Imron: 142)

Penjelasan Ayat

        Berdasarkan ayat di atas, ujian manusia terberat adalah jihad dalam arti perang dan walijah, yaitu ketika seorang mukmin diuji dengan memiliki bithonah (pembantu setia) dari kalangan orang-orang munafik dan musyrik.

     Jihad dalam arti perang (qital) memiliki resiko yang sangat tinggi terhadap fisik. Kerasnya medan perang, pengorbanan harta benda, cacat fisik dan hilangnya nyawa, adalah resiko dalam perang dimana hal itu membutuhkan kesiapan iman yang tangguh dan kuat. Di sana ada ibadah sabar terhadap penderitaan yang menimpa fisik dan psikis, infak di jalan Alloh Subhanahu wa Ta’ala, sabar tidak lari dari peperangan, tawakkal kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, ikhlas karena mencari ridloNya, sabar tetap taat kepada pimpinan, sabar tidak berbuat dholim dan melebihi batas, sabar untuk menghilangkan perasaan khawatir dan takut terhadap musuh, dibutuhkan keberanian, ketangkasan, dan permainan taktik dan strategi dan berbagai persiapan mental lain. Melihat berat dan besarnya ujian dalam jihad tersebut, maka pantaslah jika kemudian Alloh Subhanahu wa Ta’ala menjadikan sarana jihad sebagai uji kelayakan keimanan seseorang kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami Telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya kami Telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Al-Ankabut: 2-3)

Menurut Ibnu Sa’ad  yang bersumber dari Abdulloh bin Ubaid bin Umair berkata bahwa turunnya ayat di atas berkenaan dengan ‘Ammar bin Yasir ketika dia disiksa oleh orang-orang musyrik karena mengikuti agama Alloh Subhanahu wa Ta’ala

Dalam mengomentari ayat tersebut, Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya berkata, “Sesungguhnya ketika Alloh Subhanahu wa Ta’ala mensyaratkan jihad kepada hamba-hambaNya, Alloh menjelaskan bahwa semua itu ada hikmahnya, yaitu ujian bagi hambaNya untuk mengetahui mana yang berlaku taat dan mana yang tidak taat. Karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat yang Maha Mengetahui atas apa yang terjadi, yang sedang terjadi dan yang belum terjadi, meskipun sesuatu tersebut terjadi dalam situasi dan kondisi apapun, karena Alloh Dzat yang Maha Mengetahui segala sesuatu.”


Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

(Al-Baqoroh: 214)
       Berkaitan dengan ayat di atas, Sayyid Qutub berkata, “Begitulah ujian yang diberikan Alloh Subhanahu wa Ta’ala kepada kaum muslimin sebelumnya untuk mentarbiyah hamba-hambaNya yang dipilih, yang telah diserahkan kepada mereka panji-panjiNya, dan diamanahkan kepada mereka manhajNya dan syari’atNya di muka bumi”

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. (Ali Imron: 142)

    Begitupun jihad dalam pengertian yang luas, yaitu berdakwah menyebarkan Islam kepada seluruh manusia, dibutuhkan kesabaran yang sangat tinggi, keikhlasan, tawakkal kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, istiqomah dalam menetapi syari’at Islam, tidak kendor semangat (futur), kesungguhan (al-jahdu), kepayahan, sabar dalam menghadapi berbagai tantangan dari musuh-musuh dakwah, ujian ekonomi dan kekurangan harta benda, ujian terhadap popularitas dan jabatan, ujian dari fitnah wanita, ujian terhadap melimpahnya harta.

Semua ujian di atas, hanya dapat dihadapi dengan keimanan yang kuat, istiqomah, serta keikhlasan. Sehingga istiqomah dalam berdakwah juga menjadi indikasi lulusnya keimanan seseorang. Berapa banyak aktifis dakwah, da’i, muballigh, berhenti di tengah perjalanan akibat terjerumus dalam godaan harta, wanita dan tahta. Berapa banyak para da’i dan muballigh yang terpesona oleh dunia yang melimpah, tertipu oleh popularitas, terjebak dalam jabatan dan kekuasaan yang melalaikan tugas dakwah.

Termasuk ujian bagi para da’i atau aktifis Islam adalah berfikir dan berbuat secara tergesa-gesa, tanpa perhitungan yang matang. Ketergesa-gesaan justru mengakibatkan kegagalan.

Seringkali para da’i ingin instan, cepat berhasil dan memperoleh kemenangan. Padahal, perjuangan untuk menegakkan Islam adalah sebuah proses yang membutuhkan waktu panjang, dan berliku-liku. Membutuhkan pengorbanan harta yang tidak sedikit, pengorbanan fisik, psikis dan jiwa. Alloh Subhanahu wa Ta’ala tidak menilai dari hasil yang dicapai, tetapi Alloh Subhanahu wa Ta’ala menilai dari proses perjuangan dan jalan yang dilakukan oleh seorang hamba. Sebuah kaidah mengatakan,

مَنْ تَعَجَّلَ قَبْلَ آوَانِهِ عُوْقِبَ بِحِرْمَانِهِ

Sesuatu yang dikerjakan dengan tergesa-gesa (dipaksakan tercapainya) sebelum waktunya, maka akan menemui kegagalannya.

        Khabbab bin Al-Arat berkata, “Aku datang menemui Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam ketika beliau sedang berteduh di Ka’bah. Kepada beliau aku berkata, “Ya Rosululloh! Apakah tuan tidak memohonkan pertolongan kepada Alloh bagi kami? Apakah tuan tidak berdo’a bagi kami?” beliau menjawab, “Di antara orang-orang sebelum kamu dahulu ada yang disiksa dengan ditanam hidup-hidup, ada yang dibelah kepalanya menjadi dua, dan ada pula yang disisir rambutnya dengan sisir besi hingga kulit kepalanya terkelupas. Tetapi siksaan-siksaan itu tidak menggoyahkan tekad mereka untuk tetap mempertahankan agama. Demi Alloh, Alloh pasti akan mengakhiri semua ini, sehingga orang berani berjalan dari Shan’a ke Hadhromaut tanpa rasa takut kepada siapapun selain Alloh, dan hanya takut kambingnya disergap serigala. Tetapi kalian terburu-buru (tidak bersabar)”.” (HR. Bukhori)

Yang paling penting bagi seorang da’i atau aktifis Islam dalam meniti jalan dakwah adalah:

    Tetap berada di jalan syari’at Islam, mengacu kepada manjah dakwah Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dan para shohabatnya, tidak menyimpang sedikitpun dari akidah dan syari’at Islam,
    Istiqomah dalam meniti jalan dakwah, tidak loyo dan berhenti di tengah jalan,
    Ikhlas karena mengharap ridho Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan pahala surga, bukan karena mencari popularitas, jabatan dan kekuasaan, tidak karena mencari pujian, dan keuntungan harta benda,
    Dengan bertahap (tadrij), proses yang panjang dan berliku-liku,
    Dengan berjama’ah, membentuk barisan dan shof yang rapi dan teratur, di bawah satu kepemimpinan yang menjunjung tinggi musyawaroh. Karena tidak mungkin beratnya medan dakwah dan besarnya resiko berjuang hanya dipikul oleh masing-masing individu aktifis Islam,
    Kesatuan hati (ta’liful qulub) dan pemikiran antar aktifis dakwah,
    Tidak tertipu oleh ‘ashobiyah, yaitu fanatik kepada kelompok dan golongan, tidak membanggakan banyaknya pengikut, tidak merasa benar sendiri dan yang lain salah.

Itulah yang seharusnya dipegang kuat oleh setiap pejuang dan aktifis dakwah Islam dalam meniti jalan dakwah. Keberhasilan dakwah tidak diukur oleh banyak sedikitnya manusia yang mengikuti, tetapi keberhasilan dakwah hanya diukur oleh hal-hal di atas. Banyaknya pengikut, seringkali menjebak para aktifis Islam kepada kebanggaan dan kesombongan (Ightiror bil-jama’ah). Padahal banyaknya pengikut tidak memiliki arti apa-apa, jika tidak dibarengi dengan komitmen yang tinggi terhadap akidah dan syari’at Islam. Pelajaran berharga dapat diambil dari peristiwa perang Hunain. Ketika itu umat Islam dalam jumlah besar sehingga muncul dalam hati mereka kebanggaan terhadap jumlah, dan kurang bersandar kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Bagi para mujahid dan pejuang Islam yang lulus dalam ujian, dan benar-benar mengimani ajaran Islam, Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah membeli jiwa dan harta mereka dengan surga dan ridloNya. Sebagaimana yang difirmankan dalam surat As-Shoff ayat 10-12,

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar. (Ash-Shoff: 10-12)

Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu Telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang Telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar. (At-Taubah: 111)

     Ujian kedua adalah walijah, yaitu teman karib atau pembantu yang jahat dari kalangan orang-orang munafik dan musyrik. Karena pada saat yang sama, mereka bisa menjadi teman, tetapi saat yang lain menjadi musuh utama. Orang-orang munafik ibarat serigala berbulu domba, musang berbulu ayam yang siap menerkam dan menjerumuskan para pejuang Islam. Ucapan mereka manis, tetapi hati mereka penuh dengan kebencian kepada Islam. Mereka mengaku muslim, tetapi cara berfikir dan tindakannya justru bertentangan dengan akidah Islam. Mereka berbicara tentang Islam demi untuk kepentingan kelompok dan pribadinya. Bahkan mereka menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an untuk memperkuat pendapatnya yang salah dan sesat. Mereka hanya menerima sebagian ayat Al-Qur’an dan menolak sebagian yang lain. Mereka pandai berbicara, tetapi keimanan mereka tidak sampai di kerongkongan (dangkal). Mereka berjuang ketika didapati ada keuntungan secara materi, tetapi lari dari perjuangan ketika menghadapi resiko berat. Dalam bahasa hikmah “Berhenti ketika gelap, dan berjalan ketika terang”.

       Oleh karena itu, para aktifis dakwah harus mewaspadai setiap taktik dan strategi yang dilakukan oleh orang-orang munafik dan musyrik. Para aktifis dakwah harus bersikap tegas tanpa kompromi kepada orang-orang yang menjual ayat-ayat Al-Qur’an demi meraih dunia, jabatan dan kekuasaan. Apa yang diucapkan oleh Ubadah bin Shomit Rodliyallohu ‘Anhu dapat dijadikan sebagai contoh. Sebagaimana dikutip Al-Buthy dalam kitabnya Fiqhus Siroh, “Sesungguhnya aku memberikan loyalitas hanya kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, RosulNya dan kaum Muslimin, dan aku berlepas diri dari ikatan persekutuan dengan orang-orang kafir”

Hai nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. tempat mereka ialah jahannam. dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya. (At-Taubah: 73)

Hai nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. tempat mereka adalah Jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali. (At-Tahrim: 9)
Share on Google Plus

About AnaK ALaM

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar.. tapi mohon maaf untuk spam akan kami hapus langsung.