TAUSIYAH BULAN FEBRUARI 2008

Tausiyah pada bulan ini diadakan di pesantren al Manhall Batu asuhan KH. Rofian, acara seperti biasa dimulai pada waktu maghrib (dg sholat berjamaah), kemudian dilanjutkan dengan wirid dan disampaikan beberapa pengumuman dari naqib far'i kabupaten Malang yg disampaikan oleh Ust. Mashur. Setelah sholat Isya', sambil menunggu kedatangan Abi, pembacaan qosidah oleh santri ma'had Nurul Haromain, namun sebelumnya ada penyampaian cerita pengalaman haji dan kunjungan ke Rusyaifah oleh Ust. H. Nuril. Tausiyah dimulai kurang lebih jam 9 dan berakhir kurang lebih jam 10 malam


Maha Suci Dzat Yang Ketaatan Hamba-Nya Tidak Memberikan Manfaat Kepada-Nya

Dari Abu Dzar al Ghifari ra dari Nabi shollallohu alaihi wasallam bahwa Allah Azza wajalla berfirman : [Wahai para hambaKu, andai seluruh orang pertama dan terakhir kalian, manusia dan jin kalian menjadi seperti paling bertaqwanya hati seorang lelaki diantara kalian maka hal itu tidak menambah sedikitpun kepada kekuasaanKu. Wahai para hambaKu, andai seluruh orang pertama dan terakhir kalian, manusia dan jin kalian menjadi seperti paling jeleknya hati seorang lelaki diantara kalian, maka hal itu tidak mengurangi sedikitpun kekuasaanKu..] HR Muslim, lihat Hadist Arbain nomor 24

Sedang ibadah yang karenanya manusia diciptakan merupakan : 1) Standar untuk mengetahui kadar syukur dan kufurnya. Allah berfirman : (Ini adalah termasuk anugrah Tuhanku agar Dia menguji apakah aku bersyukur ataukah kufur. Dan barangsiapa yang bersyukur maka itu untuk dirinya sendiri dan barangsiapa kufur maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Mulia) QS. An Nahl : 40. 2) Hubungan (shilah) antara dirinya dengan Tuhannya dalam rangka mendekat kepadaNya. 3) Sebagai tanda ketaatan dan sebagai 4) Sarana (washilah) mendapatkan cintaNya. Nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda : “HambaKu tidak berusaha mendekat kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada sesuatu yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hambaKu selalu berusaha mendekat kepadaKu dengan amal-amal sunnah sehingga Aku mencintainya..” HR. Bukhori.


Kecintaan Alloh kepada hambaNya adalah kehendak baikNya untuk hamba tersebut, kata Imam Nawawi. Dia mencintai hambaNya maka Dia menyibukkannya dengan berdzikir kepadaNya, Dia menjaganya dari setan dan memfungsikan anggota tubuhnya dengan ketaatan. Hal ini menjadikan hamba tersebut menjaga pandangannya dari hal-hal haram. Ia tidak melihat sesuatu yang tidak halal baginya. Pandangannya adalah pandangan berfikir dan mengambil pelajaran. Ia tidak melihat sesuatu dari ciptaan-ciptaan kecuali menjadikannya sebagai dalil akan wujud Sang Pencipta. Ali ra berkata :”Aku tidak melihat sesuatu apapun kecuali aku melihat Allah sebelumnya”.

Makna mengambil pelajaran (I’tibar) adalah membawa fikiran kepada kesimpulan akan kekuasaan Allah hingga manusia terus bertasbih, memuji Allah, bertahlil, mensucikan dan mengagungkan Allah, (dengan demikian) menjadilah seluruh gerak dan aktifitasnya secara keseluruhan karena Allah ;

1) Ia tidak berjalan kecuali dalam hal yang berfaedah baginya

2) Tangannya tidak berbuat sesuatu yang sia-sia. Sebaliknya, seluruh gerak dan diamnya adalah karena Allah sehingga yang dilakukannya menjadi bernilai pahala

3) Ia tidak menganggap remeh sedikit kebaikan, karena tekadnya adalah mencari Ridha Allah yang berarti tidak ada pilihan baginya kecuali harus bersemangat, ikhlas dan serius (jujur) sebab penerimaan Allah yang menjadikan hal kecil menjadi besar, hal sedikit menjadi banyak dan yang belakangan menjadi terdepan adalah tergantung keseriusan (kejujuran) bersama Allah (“Itulah anugerah dari Allah dan cukuplah Allah sebagai Dzat Yang Maha Mengetahui”) QS an Nisa : 70, bukan mencari ridho manusia, bahkan dalam suatu saat terpaksa harus menjadikan manusia marah dijalan mencari ridho Alloh. Sebagaimana sabda Rosullalloh shollallohu alaihi wasallam : “Barangsiapa mencari ridha Alloh dengan kemarahan manusia maka Alloh pasti mencukupinya dari ketergantungan kepada manusia. Barangsiapa yang mencari ridha manusia dengan kemarahan Alloh maka Alloh menjadikannya bergantung kepada manusia”. HR Turmudzi, Qudhai dan Ibnu Asakir dengan sanad Hasan.

4) Ia tidak tertipu oleh amal yang telah dilakukan saesuai dengan bisikan doanya: “ Ya Alloh, tidak akan ada orang bisa menolak apa yang Engkau berikan dan tak ada seorangpun yang bisa memberi apa yang Engkau tolak. Dan usaha kuat orang yang giat (beribadah) disisiMu, tidak memberikan manfaat”. Tetapi ia senantiasa berharap anugerah dan rahmatNya dan bergembira karena itu. Alloh berfirman : (Katakanlah : Dengan anugerah dan rahmat Alloh maka karena itulah hendaknya mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka usahakan) QS Yunus : 58

Share on Google Plus

About Bapak e Muhammad

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar.. tapi mohon maaf untuk spam akan kami hapus langsung.